karbala irakKarbala, LiputanIslam.com –
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kota Karbala di Irak, tempat Imam Husain bin Ali ra, cucunda Rasulullah saw, dimakamkan, kembali tenggelam dalam lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru Irak maupun dari luar negeri.

Sebagaimana dilaporkan IRNA, Jumat kemarin (23/10), di Hari Tasyua’ (Hari ke-19), yaitu sehari menjelang Hari Asyura (Hari ke-10) jutaan orang telah berkumpul di kota itu untuk menyongsong Hari Asyura yang jatuh pada hari ini, Sabtu (24/10).

Hari Asyura merupakan puncak peringatan Tragedi Karbala, yaitu tragedi pembantaian Imam Husain ra oleh pasukan dinasti Bani Umayyah pimpinan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan di Padang Karbala pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H.

Menurut IRNA, ratusan ribu orang lainnya kemarin masih mengalir dari berbagai penjuru, sementara jamaah-jamaah Husainiyah yang dibentuk untuk menyambut dan melayani para peziarah makam Imam Husain ra juga terus menunaikan tugasnya itu dengan penuh antusias di tenda-tenda dan posko-posko yang mereka dirikan.karbala

Aparat keamanan Irak juga tak kalah sibuknya. Personil keamanan disebar di berbagai titik dalam jumlah besar untuk mengantisipasi ancaman keamanan dari para teroris takfiri. Mereka memasang barikade-barikade dan pos-pos pemeriksaan berlapis-lapis, baik di dalam kota maupun di sekitar kota.

Tradisi peringatan Hari Asyura, khususnya di kalangan penganut mazhab Syiah, menjadi bukti bahwa meskipun Imam Husain ra beserta keluarga dan para sahabat terbunuh dengan sangat tragis, namun pada hakikatnya cucunda Nabi saw itu justru menang karena pada akhirnya mereka melejit sebagai teladan serta sumber inspirasi dan semangat perjuangan kaum tertindas melawan kezaliman serta perjuangan kebenaran melawan kebatilan dari masa ke masa hingga akhir zaman.

Di sisi lain, tradisi ini oleh sebagian orang juga kerap dikaitkan dengan aksi-aksi berlebihan dan tak logis berupa tindakan melukai diri dengan memukulkan rantai atau benda tajam ke tubuh hingga berdarah-darah, sebagaimana terlihat dalam foto-foto yang bertebaran di internet dan sengaja disebar luaskan oleh kalangan yang anti-Syiah untuk menyudutkan kaum Muslim Syiah di mata khalayak dunia.

Namun demikian, sebagaimana kerap dinyatakan oleh kalangan Syiah, dari ratusan juta penganut mazhab ini, hanya ada ratusan atau beberapa ribu orang yang melakukan aksi bercorak kekerasan tersebut. Karena itu, menurut mereka, yang justru berlebihan adalah mengaitkan aksi kelompok yang terlampau kecil itu kepada semua kaum Muslim Syiah.

Mereka menyatakan bahwa jumhur atau mayoritas ulama Syiah mengharamkan praktik menyiksa dan melukai diri, walaupun hal itu dilakukan dengan maksud mengekspresikan solidaritas dan empati kepada penderitaan keluarga Nabi saw atau untuk memperlihatkan kesiapan berkorban demi keluarga Nabi saw, terlebih cucunda beliau, Imam Husain bin Ali ra, yang terlahir dari rahim puteri Nabi Muhammad saw, Fatimah ra. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL