serangan-peretas-thd-saudiNewYork, LiputanIslam.com –  Para peretas telah menggempur jaringan komputer milik beberapa lembaga penting Arab Saudi dalam dua minggu terakhir. Berbagai sumber mengatakan kepada channel Bloomberg News bahwa sesuai berbagai petunjuk digital, serangan itu datang dari Iran.

Serangan serupa pernah terjadi pada tahun 2012 yang menghancurkan 35,000 komputer milik perusahaan minyak Saudi hanya dalam hitungan jam dengan menggunakan malware atau virus komputer Shamoon, dan para pejabat Amerika Serikat (AS) lantas menuding Iran berada di balik serangan ini.

Kali ini, serangan peretas menerjang sedikitnya delapan lembaga Saudi, termasuk kantor berita serta sektor-sektor energi, industri dan transportasi.

Para ahli bidang keamanan jaringan komputer sekarang berdatangan ke Arab Saudi untuk mengetahui  bagaimana para peretas dapat membuat data di komputer secara massal.

Kantor berita Arab Saudi, SPA, menyebutkan bahwa serangan yang menimpa berbagai lembaga pemerintahan Saudi itu “bertujuan  melumpuhkan semua layanan dan sarana, dan para peretas menguasai data-data sistem komputer serta menanamkan program-program jahat (malware). “

Para peretas menarget Otoritas Umum Penerbangan Sipil yang mengatur bandara-bandara Saudi, dan Kementerian Perhubungan yang mengawasi jaringan jalan negara kerajaan ini, namun cara kerja malware menunjukkan bahwa sasaran utama serangan adalah badan penerbangan sipil.

Serangan peretas sebesar ini jarang sekali terjadi.  Berbagai perusahaan bidang keamanan elektronik termasuk  CrowdStrike, FireEye, McAfee, Palo Alto Networks, dan Symantec pekan ini merilis laporan yang membenarkan adanya serangan itu.

Dilaporkan bahwa pada tanggal 17 November pukul 20.45 waktu Saudi,  malware itu mulai menghapus data-data yang tersimpan di komputer berbagai lembaga Saudi. Semua file tiba-tiba berubah menjadi foto bocah Suriah Alan Kurdi, 3 tahun, yang  mayatnya ditemukan terdampar di pantai Turki dalam peristiwa insiden kapal imigran yang tenggelam dalam pelayaran menuju Eropa.

Malware itu kemudian menguasai booting record, dan mencegah re-run.

Serangan peretas ini terjadi hanya beberapa hari setelah OPEC menyepakati penurunan produksi minyak   untuk pertama kalinya selama delapan tahun terakhir. Kesepakatan ini menguntungkan Iran karena negara ini dapat meningkat volume produksinya.

Peneliti independen bidang cyber Collin Anderson menduga serangan itu dilakukan Iran untuk menekan Arab Saudi, sementara Eric Chien direktur teknis perusahaan Symantec menyatakan serangan itu berhasil.  (mm/bloomberg/cnn)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL