Zakaria, korban penyembelihan bermotif sektarian di kota suci Madinah al-Munawwarah

Madinah, LiputanIslam.com –  Kota suci Madinah al-Munawwarah belakangan ini ternodai oleh peristiwa tragis pembunuhan Zakaria, bocah usia 6 tahun,  oleh seorang pria bengis berusia 40-an tahun dengan cara yang sangat sadis pada Kamis malam 31 Januari 2019.

Pelaku adalah pria pengemudi mobil yang dicarter oleh wanita yang merupakan ibu korban untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad saw. Pria itu tiba-tiba beringas dan kalap hanya lantaran wanita itu bershalawat dengan menyebutkan nama keluarga Nabi Muhammad saw sebagaimana lazim diucapkan oleh warga Muslim Syiah.

Seperti dilaporkan al-Alam, Jumat (8/2/2019), sumber-sumber setempat menyebutkan bahwa ketika mulai menaiki mobil, wanita itu mengucapkan kalimat basmalah, lalu kalimat tawakkal kepada Allah, dan ucapan “Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad (Ya Allah, haturkan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.”

Mendengar kalimat itu, supir menoleh kepadanya dan bertanya, “Apakah kamu Syiah?” Wanita itu menjawab, “Ya.”

Tak lama kemudian, sopir itu itu menghentikan mobilnya di dekat sebuah kedai kopi di Jl. Sultan bin Abdulaziz, lalu merebut paksa Zakaria dari ibu yang berasal dari kota Ahsa’, Arab Saudi, yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah itu.

Sopir itu lalu menjatuhkan Zakaria ke tanah dan menggoroknya dari belakang leher dengan serpihan kaca yang dipecahnya saat itu. Dia melakukan kebiadaban itu di tempat terbuka, di hadapan ibunya, dan di depan mata banyak orang di sekitarnya sembari bertakbir.

Sang ibu menjerit-jerit histeris, namun tak seorangpun bertindak untuk menggagalkan kebrutalan itu hingga wanita itu akhirnya pingsan tak kuasa menyaksikan kebengisan terhadap anak yang sangat dicintainya.

Menurut cerita bibi korban, sang ibu sempat membopong Zakaria dalam keadaan berlumuran darah, dan kemudian pelaku mengikutinya dari arah belakang sembari bertanya, “Sudah mati belum?”

Banyak orang memandang kasus ini bermotif sektarian yang dilakukan oleh ekstremis intoleran Wahhabi, namun media dan otoritas Saudi tampak berusaha menutupi motif itu dengan membuat narasi bahwa pelakunya telah diperiksa dan diketahui sebagai penderita gangguan jiwa, suatu narasi yang sulit diterima oleh para pengamat karena pelakunya jelas-jelas berprofesi sebagai pengemudi serta mengantongi surat izin mengemudi.

Naifnya lagi, kejahatan ala teroris ISIS ini tak mendapat perhatian dari lembaga-lembaga peduli HAM, meski minimal sebatas kecaman, padahal kasus ini tak kalah keji dan dramatisnya dengan kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*