iran dan rusiaTelAviv, LiputanIslam.com Mantan wakil ketua divisi riset dinas rahasia Israel, Mossad, Sima Shine, dalam artikelnya yang dimuat surat kabar Israel Haaretz, Rabu (24/8/2016), menyebutkan bahwa hubungan Iran dengan Rusia terus menguat, terutama sejak Iran meneken perjanjian nuklir dengan negara-negara besar dunia.

“Moskow dan Teheran telah meneken sejumlah kesepakatan pembangunan reaktor nuklir baru, kontinyuitas pembangunan reaktor di Bushehr, dan penyerahan rudal darat ke udara S-300, padahal sudah sekian tahun Moskow tidak menyerahkan S-300 antara lain karena tekanan Israel dan Amerika Serikat (AS), dan sekarang keduanya sedang merundingkan suplai Rusia kepada Iran dengan jet tempur canggih,” tulisnya.

Dia juga menjelaskan bahwa belakangan ini kedua negara menggalang kerjasama militer dan intelijen untuk mempertahankan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad, hingga kemudian jet tempur Rusia bahkan dapat menggunakan pangkalan Iran untuk melancarkan serangan di Suriah. Hal ini bukan hanya merupakan pertama kalinya Rusia menggunakan pangkalan negara lain untuk melancarkan serangan di negara ketiga, melainkan juga pertama kalinya Iran membolehkan negara lain menggunakan pangkalan udaranya, meskipun hal ini membangkitkan kontroversi di Iran.

“Perkembangan ini menguatkan posisi Iran sebagai pemain kunci di kancah Timteng, dan memberikan peranan penting kepadanya dalam setiap kesepakatan mendatang mengenai Irak dan Suriah. Dua implikasi perkembangan ini, yaitu menguatnya Iran dan Hizbullah, dan melemahnya poros negara-negara Sunni pimpinan Arab Saudi yang berusaha membendung pengaruh Iran, sama-sama tidak menguntungkan Israel,” lanjutnya.

Dia menambahkan bahwa ketika aliansi Rusia dengan negara-negara sekutunya di Timteng yaitu Iran, Irak dan Rusia terus menguat, AS justru tidak berminat meningkatkan investasi dan intervensinya di kawasan ini, dan bahkan menghendakinya bertahannya kekuasaan al-Assad serta peningkatan campurtangan Rusia di kawasan. Semua ini membantu kekalahan kelompok teroris ISIS.

Bersamaan dengan ini pula, Turki yang kuatir terhadap dampak disintegrasi Suriah terhadap kondisi warga Kurdi akhirnya juga cenderung menerima al-Assad serta menguatnya Iran dan Rusia. Sedangkan Arab Saudi yang ketar-ketir terhadap menguatnya poros Syiah “hanya dapat memasok senjata dan uang untuk kelompok-kelompok oposisi di Suriah, namun tidak mampu membawa perubahan situasi keseluruhan.”

Mengenai posisi Israel di depan Rusia dan “poros Sunni” dia menyebutkan, “Israel tidak dapat mempengaruhi arah perkembangan. Kontinyuitas dialog dengan Rusia adalah penting dan harus dipelihara meskipun ada konflik kepentingan. Kerjasama dengan negara-negara Arab Sunni cenderung berubah menjadi kurang menarik jika poros Sunni melemah di depan poros Syiah.”

Di bagian akhir, Sima Shine menganjurkan supaya Tel Aviv memperkuat dan mengoptimalkan dialog dengan pemerintahan mendatang AS demi mengamankan kepentingan regional Israel. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL