Teheran, LiputanIslam.com –   Pemimpin Besar Revolusi Islam Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyebut pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Majelis Umum PBB bergaya koboi, sangat konyol dan tidak sopan serta geng kriminal yang penuh kebohongan dan kebingungan.

Dalam kata sambutannya pada pertemuan dengan para anggota Dewan Ahli Kepemimpin Iran di Teheran, Rabu (21/9/2017), dia menilai intensitas kemajuan Iran dalam berbagai isu regional dan global sebagai salah satu sebab kegusaran dan kekonyolan musuh-musuh bangsa Iran semisal Trump.

Menurutnya, pidato Trump di Majelis Umum PBB belum lama ini bukanlah kebanggaan bagi rakyat AS sehingga para tokoh di negara ini sudah sepatutnya merasa malu atas pidato Trump itu dan atas adanya pemimpin demikian.

Khamenei menjelaskan bahwa sudah sekian lama AS membuat dan mengupayakan prakarsanya untuk kawasan Asia Barat (Timteng). Prakarsa itu dinamai “Timteng Baru” atau “Timteng Raya” dengan tiga poros Irak, Suriah, dan Lebanon, namun kandas di semua negara ini. AS berobsesi menjadikan Irak dengan semua latar belakang sejarah dan budanya, Suriah dengan statusnya sebagai pusat resistensi (muqawamah), dan Lebanon dengan kedudukannya yang tersendiri terjebak dalam jerat pengaruh dan hegemoni AS dan Rezim Zionis Israel.

Namun demikian, lanjut Khamenei, realitas di kawasan ini berbicara lain.  AS tak dapat berbuat sesuatu di Lebanon dan Irak dan malah melihat keadaan yang sebaliknya di Suriah meskipun kejahatan Washington dan sekutunya sudah tak terhitung lagi terhadap bangsa Suriah, termasuk dukungannya yang luar biasa terhadap kelompok-kelompok teroris takfiri. ISIS sekarang sudah berada di ujung tanduk, sementara kelompok-kelompok teroris takfiri lainnya semisal Jabhat al-Nusra sudah terisolasi.

Pemimpin Besar Iran menjelaskan bahwa eksistensi dan pengaruh Iran telah menjadi sebab kekandasan semua ambisi dan rencana AS dan Israel, dan inilah yang menyebabkan keduanya marah besar terhadap Iran.

Dia mengingatkan bahwa jangan sampai salah membuat analisa karena gelagat yang diperlihatkan AS “bukan mengacu pada kekuatannya di depan Iran, melainkan mengacu sepenuhnya pada kelemahan, kekalahan, dan kekalapannya,” dan kehebetan Iran ini harus dijaga dengan rasionalitas, kebijaksanaan, dan nalar yang sehat, dan jangan sampai keliru dalam membuat pola hubungan, keputusan dan sikap.

Mengenai perjanjian nuklir Iran, dia mengatakan, “Tak masalah Iran bernegosiasi soal nuklir, dan saya sudah berulangkali memaparkannya dalam berbagai pertemuan dengan para pejabat bahwa tak ada masalah bernegosiasi, tapi harus berhati-hati dan disertai kecermatan yang memadai agar setiap kesalahan yang dilakukan oleh pihak lain jangan sampai tidak dipandang sebagai pelanggaran terhadap perjanjian nuklir sementara tindakan apapun yang dilakukan Iran malah dipandang sebagai pelanggaran… Kita memang perlu bertindak bersama dunia dan mengakui keharusannya, tapi tetap tidak boleh kita mendengar (tunduk) kepada asing.” (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL