Sanaa, LiputanIslam.com – Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul Malik al-Houthi, menjelaskan mengapa Iran menjadi negara tangguh, dan menyatakan bahwa serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel berlangsung di kawasan Timteng dengan beragam label demi menerjang dan meruntuhkan bangsa Arab dan umat Islam.

“Umat ini sekarang mengalami tragedi era ofensif Amerika-Israel yang mencolok dan menampak dalam bentuk agresi. Umat ini hendak diubah menjadi pasar konsumen dan pengemis yang bergantung pada organisasi dan sumbangan agar dapat ditundukkan dan dieksploitasi,” katanya dalam pidato yang disiarkan televisi pada peringatan haul Sayyid Hussein Badr al-Din al-Houthi, Selasa (2/4/2019).

Al-Houthi menambahkan bahwa pasca serangan 11 September, AS dan Israel bergerak dalam serangan komprehensif kolonial yang menyeret kawasan Timteng ke tahap berbahaya.

“Pasca pernyataan sikap Trump mengenai Golan rezim-rezim anteknya paling banter hanya dapat merilis pernyataan lunak bahwa Golan adalah Suriah dan Palestina adalah Arab,” ujarnya.

Pemimpin gerakan Ansarullah menekankan bahwa kaum takfiri, Kerajaan Saudi, UEA dan semisalnya bergerak dengan tema yang sama seperti yang diinginkan AS dan menghadang semua orang yang melawan proyek hegemoni, dan pada akhirnya AS tidak akan menyisakan legitimisasi apa pun kepada rezim-rezim satelit itu dan malah akan merekonstruksi mereka di masa mendatang.

“ Apa yang disebut Trump sebagai sapi perah adalah pandangan yang sama AS terhadap para pengikutnya dan mereka yang dieksploitasi olehnya di berbagai bidang,” ungkapnya.

Namun, Al-Houhti kemudian menyebutkan adanya gerakan rakyat yang bertolak dari prinsip al-Quran sehingga dapat membuktikan kapabilitasnya, yaitu Poros Resistensi yang dipelopori Iran sehingga muncul kelompok-kelompok semisal pejuang Hizbullah dan faksi-faksi militan Palestina.

“Iran berpengalaman dalam membangkitkan semua ini. Inilah yang membuatnya berada dalam posisi kuat, dan negara inilah yang melindungi Irak dan Suriah di depan serangan takfiri,” tuturnya.

Dia mengingatkan, “Setiap rezim, jika terpisah dari rakyatnya, akan berada dalam posisi lemah sehingga mengandalkan dan berlindung pada kebijakan pemuasan AS dan Israel.”

Abdul Malik al-Houthi menutup pidatonya dengan menyebutkan bahwa pihak-pihak yang kini memusuhi AS dan melawan Israel berhadapan dengan rezim-rezim anteknya yang menyerang dengan berbagai cara di Yaman, Lebanon, dan Palestina.

“Kami peduli kepada penguatan pirnsip-prinsip dan nilai-nilai absah Qur’ani untuk mengasah kecerdasan dan memperkokoh keteguhan, hubungan, dan percayaan kepada Allah,” pungkasnya. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*