Marib, LiputanIslam.com –  Pemimpin gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman, Abdel Malik al-Houthi, memuji Iran dan Hizbullah yang telah konsisten mendukung kelompok ini dalam perlawanan terhadap agresi pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.

“Apa yang telah membesarkan gerakan muqawamah (resistensi) di kawasan dan apa yang telah membuat Iran menjadi mulia adalah hasil kesediaan mereka memikul beban tanggungjawab, jihad, dan pengorbanan,” ungkapnya dalam pernyataan yang ditayangkan secara langsung oleh saluran al-Masirah, Jumat (13/7/2018), berkenaan dengan apa yang disebut Ansarullah sebagai  “Dzikra Sharkhah” (Peringatan Pekikan).

Dia melanjutkan bahwa pihaknya “tidak berminat kepada solusi politik dari PBB untuk menyelesaikan perang Hudaydah dan pesisir barat negara ini (Yaman)”, dan berterima kasih kepada Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah “yang dalam kedudukannya yang mulia telah bersimpati kepada bangsa Yaman.”

Kelompok Ansarullah setiap tanggal 29 Syawal memperingati Dzikra Sharkhah yang telah dijadikan sebagai slogan oleh pendiri Ansarullah, Husain al-Houth, pada tahun 2001.  Dzikra Sharkhah terdiri atas lima kalimat yang selalu dipekikkan oleh Ansarullah dalam berbagai momen penting, yaitu: “Allahu Akbar, mampus Amerika, mampus Israel, laknat atas Yahudi, dan kemenangan bagi Islam.”

Arab Saudi yang memimpin pasukan koalisi Arab yang memerangi Ansarullah sejak tahun 2015 sampai sekarang menuding Iran dan Hizbullah memberikan bantuan militer dan senjata, termasuk rudal, kepada Ansarullah, namun Iran dan Hizbullah membantah tuduhan itu.

Tentang ini al-Houthi mengatakan, “Amerika, Saudi, dan Emirat sendiri mengetahui bahwa penyataan mereka mengenai masuknya rudal dari Iran melalui pelabuhan Hudaydah tidaklah benar dan merupakan dusta belaka, sebab memang tidak ada kapal apapun yang masuk ke pelabuhan ini kecuali setelah mendapat izin dan diperiksa (oleh kubu Saudi yang mengepung Yaman).”

Kelompok Ansarullah menguasai bagian utara Yaman, termasuk ibu kota negara ini, Sanaa, sedangkan pasukan loyalis mantan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung pasukan koalisi pimpinan Saudi menguasai bagian selatan dan menjadikan kota Aden sebagai markasnya.

Belakangan ini pertempuran antara Ansarullah yang didukung tentara Yaman di satu pihak dan pasukan loyalis Hadi yang didukung pasukan koalisi Arab berkonstrasi di kawasan sekitar pelabuhan Hudaydah yang menjadi pintu masuk bantuan kemanusiaan internasional. Pelabuhan ini dikuasai oleh pihak Ansarullah, sementara pasukan loyalis Hadi berusaha merebutnya. Belakangan ini pertempuran mereda untuk memudahkan mediasi Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths.

Abdel Malik al-Houthi mengatakan, “Kami menerima PBB memiliki peranan teknis, logistik, dan bantuan di Pelabuhan Hudaydah,sementara musuh menolaknya.”

Perang di Yaman berkobar sejak Maret 2015, yaitu sejak pasukan koalisi Arab mengintervensi Yaman hingga jatuh korban tewas puluhan ribu orang dan menyebabkan apa yang disebut PBB sebagai “krisis kemanusiaan terburuk di dunia.” (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*