syrian armyDamaskus, LiputanIslam.com – Tentara Suriah mencetak prestasi baru dalam operasi penumpasan milisi pemberontak dan ekstrimis yang berlangsung Jumat (25/4/2014). Mereka berhasil merebut sebuah kawasan strategis di Latakia. Bersamaan dengan ini, ratusan militan yang menderita luka-luka dilaporkan telah dilarikan ke wilayah pendudukan Israel dan mendapat perawatan di sana.

Menurut laporan kantor berita FNA dari Damaskus, tentara Suriah berhasil merebut sebuah lokasi strategis bersama Burj al-Zerai setelah melancarkan serangan masif di wilayah pegunungan Chalma di Kasab, provinsi Latakia.

Berbagai informasi yang ada juga menyebutkan bahwa tentara Suriah masih terus melepaskan badai serangan di beberapa kawasan untuk menguasai jalur-jalur masuk menuju Kasab, yang jika mereka berhasil maka bagian utara Latakia akan hampir sepenuhnya bersih dari keberadaan militan bersenjata.

Sementara itu, kantor berita SANA mengutip laporan situs Walla yang berbasis di Israel menyebutkan ratusan militan pemberontak dan ekstrimis yang menderita luka-luka di Suriah telah mendapat perawatan di wilayah penduduk Israel.

Disebutkan dalam peristiwa terbaru, enam militan yang cidera dalam perang di Suriah telah mendapat perawatan di wilayah pendudukan Israel. Dua di antara militan itu berada dalam kondisi kritis dan dilarikan ke sebuah rumah sakit di kota Nahariya, sedangkan lainnya dirawat di rumah sakit di kota Tiberia. Walla menyatakan bahwa sejauh ini rumah sakit di Tiberia telah merawat 67 militan, sedangkan rumah sakit di Tiberia telah merawat 250 militan.

Mengenai hubungan oposisi Suriah dengan Israel, koran Rai al-Youm yang juga berbasis di Lebanon melaporkan bahwa tokoh oposisi Suriah Kamal al-Labwani kembali menyatakan perlunya hubungan kubu oposisi Suriah dengan Israel. Dia mengatakan, harus dicapai kesepakatan dengan Israel untuk mengatasi kekacauan situasi di wilayah perbatasan Suriah dengan Israel.

Menurut Rai al-Youm, dalam sebuah wawancara dengan media Jerman dia juga menyatakan siap berkunjung ke Israel jika hal itu bermanfaat bagi rakyat Suriah dan perdamaian di kawasan. Pendiri Persatuan Demokrasi Liberal Suriah ini belakangan menyatakan keluar dari koalisi oposisi Suriah, dan mengatakan, “Inisiatif saya untuk berdamai dengan Israel adalah solusi yang adil dan benar untuk mengatasi pertikaian dan konflik regional.”

Di bagian lain, koran al-Safir menyebutkan bahwa impian 60,000 personil “pasukan Bandar bin Sultan” di Suriah sudah berakhir. Menurut koran terbitan Lebanon ini, semua agenda Bandar dalam perang Suriah kini ditinjau kembali setelah dia dicopot dari jabatannya sebagai Ketua Badan Intelijen Arab Saudi.

Al-Safir menambahkan bahwa pengganti Bandar akan mencoba menata ulang konstalasi kelompok-kelompok militan Salafi (Wahabi) di Suriah. Al-Safir mengutip pernyataan seorang pejabat Saudi: “Kami tidak dapat percaya sepenuhnya kepada orang-orang Suriah sendiri agar revolusi dapat bergerak maju.”

Namun demikian, lanjut al-Safir, Qatar, Jordania dan Saudi sendiri sudah menganulir sepenuhnya program-program Bandar bin Sultan di Suriah, dan dalam hal ini kesepahaman antara Saudi dan Qatar untuk mengubah konstalasi kelompok-kelompok bersenjata anti pemerintah Suriah dinilai sangat berperan.

Disebutkan bahwa Qatar akan berusaha mempertahankan elemen-elemen Islamis moderat dan mengabaikan kelompok-kelompok ekstrimis Salafi. Agenda Qatar ini berseberangan dengan agenda 60,000 pasukan Bandar bin Sultan yang sebagian besar justru terdiri dari para ekstrimis Salafi. (mm/fna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL