syria Assad_flagNew York, LiputanIslam.com – Tim pemantau pemilu dari Amerika Serikat (AS) mengakui kemenangan Bashar al-Assad dalam pemilu Suriah 3 Juni 2014 dan menyebutnya sebagai ekspresi kehendak rakyat.

Seperti diberitakan Press TV Kamis (19/6/2014), pengakuan itu dikemukakan oleh para anggota Misi Pemantau Independen AS dalam jumpa pers di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PPB) di New York Rabu (18/6/2014). Mereka adalah Paul Larudee, Joe Iosbaker, Judy Bello, Scott Williams dan Jane Stillwater.

Kelompok ini adalah bagian dari misi pemantau internasional yang melibatkan delegasi dari 32 negara. Mereka menyebut pemilu Suriah sukses, bebas, transparan serta cerminan kehendak rakyat negara ini.

Menurut mereka, tingginya tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu Suriah membuktikan bahwa rakyat negara ini menghendaki perdamaian, demokrasi dan pemerintahan yang mandiri.

“Ingin saya katakan bahwa saya mendapati pemilu Suriah sebagai penegasan yang luar biasa atas kehendak rakyat Suriah. Meskipun hasilnya tidak diragukan, namun orang-orang Suriah di luar negeri membuat kedutaan besar mereka kewalahan, atau mereka sudi menempuh jarak ribuan mil demi kesempatan untuk memberikan suara,” ungkap Paul Larudee.

“Sedangkan di Suriah, mereka mendatangi kotak-kotak suara dengan jumlah besar untuk mendemonstrasikan dukungan mereka. Jelas, rakyat Suriah datang demi menyampaikan pesan bahwa mereka mendukung pemerintahan mereka saat ini, maka kami pun menerima pesan mereka,” lanjutnya.

Sedangkan Joe Iosbaker menyebut pemilu Suriah sebagai kekalahan bagi AS, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Zionis, dan negara-negara Arab Teluk Persia, serta kemenangan bagi rakyat Suriah.

Tanggal 4 Juni lalu diumumkan bahwa Bashar al-Assad meraih kemenangan dalam pemilu presiden dengan perolehan suara sebanyak 88.7 persen. Menyusul pengumuman ini, rakyat Suriah turun ke jalan-jalan merayakan kemenangan presiden petahana (incumbent) Bashar al-Assad. Dalam pemilu ini Assad mengalahkan dua kandidat pesaingnya, Maher al-Hajjar yang merupakan anggota parlemen dan Hassan al-Nouri, pengusaha Suriah.

Pemilu berlangsung di tengah suara krisis keamanan yang masih melanda negara ini akibat aksi pemberontakan dan terorisme sejak Maret 2011. Krisis itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 160,000 orang serta menyebabkan jutaan penduduk terpaksa mengungsi untuk menghindari kekerasan.

Berbagai laporan juga menyebutkan bahwa kubu pemberontak dan kelompok-kelompok ekstrimis yang beraksi di Suriah didukung penuh oleh Barat dan sejumlah negara sekutunya di Timur Tengah, khususnya Qatar, Saudi Arabia dan Turki. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL