AlQuds, LiputanIslam.com – Pria bersenjata yang bertanggung jawab atas penembakan massal di dua masjiddi Selandia Baru dilaporkan media Israel pernah berkunjung ke negara legal Zionis ini pada dua setengah tahun silam.

Brenton Harrison Tarrant, 28 tahun,  warga negara Australia, ditangkap Jumat (15/3/2019), setelah melancarkan aksi brutal penembakan massal di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang menggugurkan 50 orang dan melukai 50 lainnya.

Selama serangan Jumat pagi, Tarrant menembak mati puluhan orang di Masjid Al-Noor, lalu menyerang Pusat Islam Linwood, menggunakan senapan semi-otomatis sambil menyiarkan langsung pembantaian itu ke media sosial.

Menurut sebuah laporan Minggu malam oleh Channel 13 Israel, Tarrant telah berkunjung ke Israel dua setengah tahun sebelum pembantaian.

Seorang pejabat senior Israel mengatakan kepada saluran itu bahwa Tarrant dari Turki telah memasuki Israel pada 25 Oktober 2016 menggunakan paspor Australia dan visa turis standar tiga bulan, serta berada di Israel selama sembilan hari.

Laporan lain menyebutkan bahwa Tarrant adalah seorang pengembara yang sering menghabiskan waktunya di Pakistan, Turki, dan Bulgaria, di antara negara-negara lain dalam beberapa tahun terakhir.

Seorang pejabat senior Turki kepada CNN, Sabtu, mengatakan bahwa Tarrant telah beberapa kali melakukan perjalanan ke Turki dan “menghabiskan waktu yang lama di negara ini.”

Menurut kantor berita negara BTA, jaksa penuntut umum Bulgaria Sotir Tsatsarov mengatakan kepada wartawan bahwa dia juga baru-baru ini melakukan perjalanan ke Bulgaria, Rumania, dan Hongaria, dan Pada 2016, dia mengunjungi Montenegro dan Serbia.

Tarrant juga diyakini pernah berada di Pakistan utara. Pemilik Hotel Osho Thang di Nagar, di Gilgit-Baltistan di wilayah paling utara Pakistan, kepada CNN, Sabtu, mengatakan Tarrant telah mengunjungi hotelnya pada Oktober 2018. Pemilik hotel, yang tidak ingin disebutkan namanya karena alasan keamanan, menyebut Tarrant sebagai “turis biasa.”

“Yang saya ingat adalah dia penggemar makanan lokal. Dia akan meninggalkan hotel di pagi hari dan akan kembali di malam hari,” katanya.

Sabtu kemarin (17/3/2019), Tarrant dibawa ke pengadilan Christchurch di mana ia didakwa dengan berbagai tuduhan pembunuhan atas pembunuhan massal tersebut.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan Tarrant akan diadili di Selandia Baru, namun tidak jelas apakah Tarrant pada akhirnya akan diekstradisi ke negara asalnya, Australia. (mm/arutsheva/cnn)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*