tentara israel menangis3Tel Aviv, LiputanIslam.com – Sejumlah pejabat permukiman Zionis di bagian selatan Israel mengaku kecewa terhadap kesepakatan gencatan senjata Palestina-Israel, menganggap pejuang Palestina sebagai pemenang Perang Gaza, dan merasa sia-sia bertahan lama-lama di pengungsian.

Walikota Ashkelon Itamar Shimoni, misalnya, mengaku tidak habis berpikir menyaksikan Tel Aviv ternyata tidak dapat berbuat banyak terhadap para pejuang Palestina.

“Ketidak becusan di depan Hamas dan militan Palestina tak ubahnya dengan menyerah kepada mereka. Penduduk selatan (Israel) ingin Israel berperang secara total dan membasmi kelompok-kelompok Palestina sekaligus, tapi ternyata hal ini tidak terjadi. Kami ingin melihat militan Palestina kalah dan musnah, tapi yang terjadi justru sebaliknya; Setiap kesempatan malah digunakan Israel untuk beranjak menuju meja perundingan” ungkap Shimoni, sebagaimana dilansir koran Israel Haaretz dan dikutip Falastin al-Youm Rabu (27/8).

Dia menambahkan, “Hanya untuk mendapatkan hasil ini kami telah kehilangan 64 tentara dan empat warga kami. Demi ini pula kami rela bertahan di pengungsian selama dua bulan, menanggung banyak kerugian ekonomi, dan kehilangan banyak keuntungan bisnis. Kami mengharapkan sesuatu yang lebih besar dari ini.”

Walikota Ashkelon menilai gencatan senjata sebagai tahap di mana Israel harus bersiap siaga menghadapi bahaya besar di masa mendatang.
“Gencatan senjata dalam kondisi sekarang berarti kesiapan menyongsong tahap baru yang jauh lebih berbahaya dan berdarah-darah,” katanya.

Kekesalan yang sama juga diungkapkan Dewan regional Hof Ashkelon, Yair Farjun.

“Kami ternyata tetap harus waspada,” keluhnya.

Sementara itu, Walikota Ashdod, Yechiel Lasry, menyebutkan bahwa penduduk bagian selatan Israel kecewa perang selesai secepat ini dan berakhir demikian.

“Padahal,” katanya, “seandainya gencatan senjata tidak dilanjutkan maka kami bahkan siap untuk tidak memulai tahun ajaran baru yang semestinya dimulai pada awal bukan September mendatang,” paparnya.

Dia menambahkan, “Sebagian penduduk permukiman selatan mengatakan mengapa secepat ini mereka harus kembali ke tempat tinggal mereka, sedangkan mereka masih ingin melihat apa yang akan terjadi dalam beberapa hari mendatang.”

Seperti diketahui, para pejuang Palestina dan Rezim Zionis Israel yang dimediasi oleh pemerintah Mesir akhirnya menyepakati gencatan senjata tanpa batasan waktu setelah keduanya terlibat perang selama 51 hari. Dalam kesepakatan itu Israel bersedia memenuhi beberapa permintaan pejuang Palestina, termasuk pembukaan semua pintu perbatasan Jalur Gaza yang berarti terdobraknya blokade yang diterapkan Israel selama bertahun-tahun terhadap wilayah tersebut. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL