pengungsi suriah 1Jenewa, LiputanIslam.com – Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kamis (3/9) menyatakan sejak 2011 sampai sekarang sebanyak lebih dari 2000 pengungsi Suriah tenggelam di Laut Tengah dalam upaya mereka menyeberang ke daratan Eropa.

Sebagaimana dilaporkan Associated Press, Dewan HAM PBB menyerukan kepada masyarakat dunia supaya memberikan bantuan kepada warga sipil Suriah. Dalam laporannya dewan ini menyebutkan bahwa minimnya upaya masyarakat dunia melindungi jiwa para pengungsi Suriah sekarang telah berdampak krisis di bagian selatan Eropa.

“Warga sipil menanggung penderitaan yang tak terlukiskan, sementara masyarakat dunia hanya menjadi penonton,” ungkap ketua Dewan HAM PBB, Paulo Sérgio Pinheiro.

Laporan itu disusun berdasarkan hasil 335 wawancara dengan para korban dan saksi mata yang dilakukan dalam kurun waktu Januari hingga Juli 2015, dan rencananya akan diserahkan kepada sidang dewan ini pada 21 September mendatang.

Dalam laporan itu juga tercatat bahwa pengepungan terhadap kawasan-kawasan padat penduduk di Suriah telah menyebab kelaparan, malnutrisi, dan mewabahnya penyakit di tengah penduduk.

Disebutkan pula bahwa kawanan teroris ISIS sekarang menggunakan taktik baru setelah terdesak keluar dari beberapa kota oleh para pejuang Kurdi Suriah, termasuk dengan cara menyerang lalu kabur dari lokasi peledakan bom yang mereka lakukan di dalam kota.

Minimnya Kepedulian Negara-Negara Arab Teluk Persia

Lembaga Amnesti Internasional menyatakan bahwa beberapa negara pesisir Teluk Persia, yaitu Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) sampai sekarang masih belum bersedia mengalokasikan tempat untuk menampung para pengungsi Suriah.

Sebagaimana dilaporkan TV Nabaa milik oposisi Arab Saudi, Amnesti Internasional dalam statemennya menyatakan bahwa pemerintah Saudi, Qatar, dan UEA enggan meskipun tahu persis bahwa beberapa negara Islam kewalahan dan tak berdaya menampung para pengungsi Suriah yang jumlahnya sangat besar.

Lembaga ini kemudian menyebutkan bahwa Turki menampung pengungsi Suriah sebanyak 1,6 juta jiwa, sementara Lebanon 1,1 jiwa, Yordania 620,000 jiwa, Irak 225 jiwa, dan Mesir 140,000 jiwa.

Data inipun hanya mencakup orang-orang yang namanya tercatat, sedangkan pendataan semua orang yang masuk ke negara-negara tersebut sulit dilakukan.

Negara-negara Arab Teluk yang dikenal kaya minyak itu memang memberikan bantuan finansial kepada negara-negara penampung pengsungsi Suriah. Namun Amnesti Internasional mengingatkan bahwa bantuan dana saja tidak cukup, karena tidak membantu mengatasi dampak politik dan sosial yang terjadi di negara-negara penampung. Di Lebanon, misalnya, jumlah pengungsi Suriah mencapai seperempat jumlah penduduk negara setempat.

Di samping itu, bantuan dana juga tidak dapat mengatasi problematika sumber daya alam di negara-negara itu. Contohnya, Yordania yang dalam kondisi normal saja selalu mengalami krisis air bersih jelas tidak mungkin dapat memberikan bantuan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi.

Persekongkolan Turki, Saudi dan Qatar

Jurnalis dan progamer komputer asal Australia pendiri dan ketua redaksi situs kontrovesial Wikileak, Julian Paul Assange, membocorkan adanya perjanjian rahasia segi tiga Qatar, Saudi dan Turki untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Sebagaimana dilaporkan Press TV, kepada Sunday TV yang berbasis di Rusia dia mengaku mendapatkan dokumen-dokumen baru persekongkolan anti Damaskus yang diteken oleh negara-negara Arab Teluk Persia pada tahun 2012 serta melibatkan beberapa negara Barat seperti Perancis, Inggris dan Amerika Serikat.

Hanya saja, menurut Assange, negara-negara sekutu AS di Timur Tengah itu telah bertindak lebih jauh di mana Saudi menyalahi instruksi Washington.

Disebutkan bahwa dokumen-dokumen berupa ratusan di antara ribuan berkas kenegaraan itu mencakup komunikasi internal antarkedutaan besar Saudi di pelbagai negara dunia.

Dukungan Iran dan Rusia Kepada Suriah

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian menegaskan bahwa segala inisiatif untuk penyelesaian krisis Suriah tidak bisa lepas dari peran kunci rakyat Suriah dan presiden negara ini, Bashar al-Assad.

“Peranan Bashar al-Assadpun juga bersifat sentral dan determinan dalam segala bentuk solusi politik bagi krisis Suriah,” katanya dalam jumpa pers bersama sejawatnya di Damaskus, Faisal Mekdad, Kamis kemarin, seperti dilansir IRNA.

Dia menegaskan bahwa Iran, demikian pula Rusia, mengapresiasi peranan besar al-Assad dalam membentengi persatuan nasional Suriah, perang melawan terorisme dan pengelolaan strategi untuk menyelesaikan krisis.

“Republik Islam Iran dan Rusia tetap solid dan tak akan berubah dalam menyokong Suriah, dan tak syak lagi bahwa segala prakarsa politik dari kami untuk menyelesaikan krisis negara ini akan didukung oleh Rusia,” tegasnya.

Dia juga mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Iran dalam pertemuannya dengan al-Assad di Damaskus belum lama ini telah menyerahkan prakarsa Iran untuk penyelesaian krisis Suriah.

Seperti diketahui, Suriah dilanda gejolak pemberontakan sejak 2011 yang kemudian diperparah oleh gelombang kemunculan kelompok-kelompok teroris semisal ISIS dan Jabhah al-Nusra. Gejolak ini telah menelan 230,000 korban jiwa. Banyak indikasi yang menunjukkan bahwa AS dan sekutunya berada di balik gelombang pemberontakan dan menjamurnya kelompok-kelompok teroris di Suriah. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL