pbb.NewYork, LiputanIslam.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menepis tuduhan Duta Besar (Dubes) Israel untuk PBB bahwa data mengenai akibat serangan Israel di Jalur Gaza diperoleh PBB melalui sumber-sumber yang dikendalikan Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas. Bersamaan dengan ini, Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Perundingan Damai Palestina-Israel, Robert Serry, mengatakan bahwa konflik di Gaza mengakar pada pendudukan pasukan Israel terhadap wilayah pendudukan Palestina tahun 1967.

Sebagaimana dilansir IRNA, Juru Bicara Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Stepahne Dujarric mengatakan data mengenai korban dan dampak serangan Israel di Gaza diperoleh PBB melalui Komisaris HAM PBB dan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang ada di lokasi serta didapat dari penyelidikan secara meluas.

Sebelumnya, Dubes Israel untuk PBB Ron Prosor Senin kemarin (18/8) kepada wartawan mengatakan bahwa data itu tidak benar karena diperoleh PBB dari sumber-sumber yang berpihak kepada Palestina.

Menepis pernyataan ini Dujarric mengatakan bahwa data itu sudah diserahkan kepada para pejabat PBB dan dikonfirmasi bukan hanya oleh satu sumber informasi, melainkan oleh berbagai organisasi dan LSM yang ada di Jalur Gaza.

Menurut data tersebut, total jumlah syuhada Palestina 1,959 orang, yang 80 persen di antaranya adalah warga sipil. Selain itu, sebanyak sepertiga dari sekitar 540,000 penduduk kota Gaza terpaksa mengungsi akibat serangan tentara Israel.

Sementara itu, Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Perundingan Damai Palestina-Israel, Robert Serry, mengatakan bahwa konflik di Gaza mengakar pada aksi pendudukan pasukan Israel terhadap wilayah pendudukan Palestina tahun 1967. Karena itu dia menegaskan bahwa perang hanya bisa diselesaikan apabila Israel menarik pasukannya ke perbatasan sebelum tahun 1967.

Hal itu dia kemukakan Senin kemarin dalam laporan terbarunya mengenai kondisi Jalur Gaza kepada Dewan Keamanan PBB.
Dia mengingatkan bahwa kalaupun perundingan Palestina-Israel belum membuahkan hasil, kondisi kehidupan penduduk Gaza tetap tidak boleh dipertahankan seperti keadannya sebelum Israel menggelar operasi militer ke Gaza.

“Kembalinya Gaza kepada keadaan sebelum serangan artinya ialah kembalinya Gaza kepada pembatasan dan larangan keluar masuk penduduk dan komoditas dari pintu-pintu perbatasan kawasan ini. Hal ini dapat menyebabkan konfrontasi lagi antara kedua pihak dalam waktu dekat,” paparnya.

Dia lantas berkesimpulan bahwa satu-satunya jalan untuk menegakkan perdamaian antara kedua pihak ialah penarikan mundur pasukan Israel hingga ke perbatasan sebelum tahun 1967. Dia juga menegaskan bahwa langkah awal yang harus ditempuh untuk memulihkan perdamaian dan ketentraman ialah pembukaan semua pintu perbatasan Jalur Gaza dan pelimpahan keamanan wilayah ini kepada pemerintah Palestina sendiri.

Dia menambahkan bahwa perdamaian dan stabilitas Palestina bergantung pada adanya pemerintahan Palestina yang satu dan melibatkan semua faksi politik yang ada.

Mengenai dampak serangan Israel, dia menyebutkan bahwa selain telah menjatuhkan korban jiwa sekitar 2,000 orang, serangan itu juga telah menghancurkan rumah dan bangunan sebanyak 16,800 unit . Menurutnya, langkah awal yang harus ditempuh PBB ialah merekonstruksi bangunan yang hancur dan mengembalikan para pengungsi ke rumah masing-masing.

Di bagian akhir laporannya dia menekan kembali bahwa satu-satu penyelesaian pertumpahan darah ialah mundurnya pasukan Israel ke perbatasan sebelum tahun 1967. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL