NewYork, LiputanIslam.com – Jubir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Stephane Dujarric menyatakan sebanyak lebih 126,000 orang mengungsi dan lebih 300,000 orang lainnya terancam mengungsi dari Afrin, provinsi Aleppo, Suriah utara, sejak Turki melancarkan operasi militer ber sandi “Tangkai Zaitun” di kawasan ini.

“Kami sudah memulai komunikasi-komunikasi kami untuk menghentikan situasi ini di kawasan, sebab 60% penduduk Afrin memerlukan bantuan,” katanya kepada Radio Rudaw milik Kurdi Suriah, Selasa (23/1/2018).

Dia menekankan “keharusan melindungi warga sipil dan menghormati undang-undang internasional oleh semua pihak yang bertikai”, dan menduga bahwa organisasi-organisasi bantuan kemanusiaan akan menghadapi tantangan besar jika berusaha masuk ke Afrin ketika pertempuran masih berlanjut.

Seperti diketahui, sejak Sabtu (20/1/2018) Turki memulai serangan militer bersandi “Tangkai Zaitun” terhadap milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di Afrin.

Dewan Keamanan PBB Senin lalu mengakhiri sidangnya mengenai operasi militer Turki itu tanpa merilis kecaman atau keputusan kolektif.

Sidang itu sendiri digelar atas permintaan Dubes Perancis untuk PBB Francois Delattre yang menyatakan “sangat prihatin atas situasi di Suriah utara di tengah kontinyuitas eskalasi”.

Dia meminta Turki “menahan diri”, dan mengingatkannya bahwa apa yang harus diutamakan sekarang ini ialah “persatuan para mitra dalam perang melawan ISIS”.

Menlu Amerika Serikat Rex Tillerson Senin lalu juga menyayangkan serangan Turki tersebut dan mengimbau semua pihak agar menahan diri.

Sementara itu, Pusat Rusia untuk Rekonsiliasi Suriah kemarin melaporkan bahwa sekira 10,000 warga Suriah telah kembali rumah masing-masing selama 24 jam sebelumnya, dengan rincian 9,578 orang di provinsi Damaskus, 63 di Hama, 14 di Homs, dan 56 di Deir Ezzor. (mm/rt/novosti)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*