Riyadh, LiputanIslam.com –  Pasukan khusus Arab Saudi dilaporkan berhasil mengendalikan situasi di kota Awamiyah yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah di bagian timur negara ini setelah sekira lima bulan terjadi kontak senjata dan kekerasan yang dipicu oleh proyek konstruksi. Demikian dinyatakan oleh para saksi mata, pejabat, dan media Saudi Rabu (9/8/2017).

Kota Awamiyah yang terletak di kawasan Qatif, provinsi al-Sharq, di bagian timur Saudi merupakan tanah kelahiran ulama besar Syiah Syeikh Nimr al-Nimr yang dihukum mati oleh otoritas Saudi pada Januari 2016 setelah dituduh terlibat terorisme. Syeikh al-Nimr adalah salah satu penggerak aksi protes tahun 2011 yang kemudian berkembang menjadi tuntutan kesetaraan warga Syiah dengan warga Sunni.

Sejak Maret lalu distrik Mosawarah di kota Awamiyah dilanda gejolak kontak senjata antara pasukan keamanan dan kelompok bersenjata setempat yang menjadi buronan aparat Saudi dengan tuduhan terlibat terorisme. Otoritas Saudi menyebut distrik itu telah berubah menjadi “sarang teroris dan pengedar obat terlarang.”

Kontak senjata pecah sejak pemerintah Saudi melakukan aksi penggusuran untuk memulai proyek pengubahan distrik itu menjadi destinasi perdagangan dan kebudayaan dengan membangun komplek perdagangan dan sentra kebudayaan.

Proyek itu meniscayakan pembongkaran antara lain bangunan-bangunan kuno sehingga penduduk menolaknya dan meminta supaya bangunan-bangunan itu dijadikan sebagai cagar budaya. Kontak senjata telah menjatuhkan beberapa korban jiwa warga sipil dan petugas keamanan.

Menteri Informasi Saudi Awad al-Awad, Rabu, di halaman Twitternya menyatakan bahwa pemerintah Saudi berhasil “membersihkan” Mosawarah dari “para teroris.”

Media Saudi Sabq dan Okaz melaporkan bahwa badan keamanan Saudi telah memulihkan keamanan di distrik itu setelah menggelar operasi keamanan yang “menyebabkan sejumlah teroris terbunuh dan beberapa orang lainnya tertangkap.”

Distrik Mosawarah dihuni oleh sekira 8,000 kepala keluarga. Saksi mata penduduk distrik lain di dekat Mosawarah kepada AFP mengatakan bahwa kontak senjata terjadi intensif dalam dua minggu terakhir sebelum kemudian terhenti dan suasana kembali tenang pada hari Selasa lalu.

Sebagian besar warga Muslim Syiah Saudi tinggal di bagian timur negara ini. Mereka diperlakukan sebagai warga kelas dua meskipun daerah yang mereka tinggali merupakan kawasan yang kaya minyak.  (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL