Gaza, LiputanIslam.com –  Pasukan Zionis Israel telah membunuh seorang wanita Palestina dan melukai sedikitnya 25 orang lainnya dalam peristiwa aksi protes warga Palestina di kawasan sepanjang perbatasan Jalur Gaza dengan Israel (Palestina pendudukan 1948), Jumat (11/1/2019).

Juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Ashraf al-Qedra, mengatakan bahwa Aml Moustafa Ahmed, wanita Palestina berusia 43 tahun, gugur diterjang peluru pasukan Israel dalam aksi protes di bagian timur Jalur Gaza.

Dia menambahkan bahwa pasukan Israel juga menembak dan melukai setidaknya 25 orang lainnya dalam peristiwa yang sama. Dua wartawan dan seorang paramedis juga luka terkena tembakan gas air mata pasukan Israel.

Ketegangan Gaza-Israel meningkat di kawasan sekitar pagar pemisah  Israel dengan Gaza sejak 30 Maret 2018, yaitu tanggal dimulainya aksi protes yang berlangsung setiap hari Jumat di kawasan itu.

Dalam aksi damai tersebut penduduk Gaza menuntut pemenuhan hak warga Palestina yang terusir dari kampung halaman mereka.

Bentrokan di Gaza mencapai puncaknya pada 14 Mei 2018, menjelang peringatan 70 tahun Hari Nakba, atau Hari Bencana Palestina yang saat itu diadakan bertepatan dengan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memindah kedutaan AS untuk Israel dari Tel Aviv ke kota suci al-Quds (Baitul Maqdis/Yerusalem).

Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, sejauh ini lebih dari 240 warga Palestina gugur dan lebih dari 20.000 lainnya terluka  oleh serangan pasukan Zionis terhadap massa Palestina di Gaza.

Jalur Gaza diblokade Israel sejak Juni 2007 hingga menyebabkan penurunan standar hidup serta pengangguran dan kemiskinan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Secara terpisah, Kementerian Kesehatan Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat mengumumkan bahwa pasukan Israel melukai seorang pria Palestina di kota al-Khalil (Hebron) dengan kondisi yang parah, Jumat.

Pengumuman ini dinyatakan setelah ada laporan awal yang mengatakan bahwa pria itu terbunuh, sementara militer Israel mengklaim pria itu berusaha menikam tentara Israel di dekat pemukiman Kiryat Arba.

Sekira 600.000 warga Israel tinggal di lebih dari 230 permukiman ilegal yang dibangun sejak Israel pada tahun 1967 mulai menduduki wilayah Palestina di Tepi Barat dan al-Quds Timur.

Palestina menginginkan Tepi Barat sebagai bagian dari negara Palestina merdeka di masa depan dengan al-Quds sebagai ibukotanya.

Putaran terakhir perundingan Israel-Palestina terjadi pada 2014, yang isinya antara lain  berupa poin bahwa ekspansi pemukiman Israel tetap berlanjut di wilayah Palestina. (mm/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*