العامري يعلن تحرير منشأة الثرثار وفك الحصار عن 90 جندياًRamadi, LiputanIslam.com – Sekjen organisasi relawan Badar Irak, Hadi al-Amiri, Kamis (28/5) mengumumkan bahwa fasilitas Tharthar di bagian utara Ramadi, ibu kota provinsi Anbar, telah bebas dari pendudukan pasukan teroris organisasi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan sebanyak 90 tentara Irak bebas dari kepungan teroris.

“Para pejuang relawan al-Hashd al-Shaabi dan pasukan keamanan telah terlibat pertempuran sengit dengan para anggota ISIS di dekat fasilitas Tharthar di utara Ramadi. Pertempuran ini menghasilkan pembebasan fasilitas Tharthar sepenuhnya dari para anggota ISIS sehingga 90 tentara yang terkepung di dalamnya berhasil dibebaskan,” kata al-Amiri, sebagaimana dilansir situs berita Irak al-Sumaria News.

Sebelumnya di hari yang sama Ketua Komisi Keamanan dan Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat Irak Hakim al-Zamili mengumumkan bahwa beberapa kawasan yaitu Jazirah Samarra, Khath al-Lain di barat daya Samarra, Syed Ghraib, Ramilat hingga Nadim Tharthar telah bebas dari cengkraman ISIS.

Dia juga mengatakan banyak sebanyak 63 anggota ISIS terbunuh di tangan pasukan Irak yang didukung relawan Brigade al-Salam. Selain itu, empat orang anggota ISIS yang menyamar sebagai perempuan juga berhasil diringkus.

Kemhan Irak menyatakan 12 teroris tewas terkena serangan udara dalam operasi militer di distrik Samarra.

Tim Intelijen AS Ditarik

Sumber keamanan provinsi Anbar menyatakan “sekelompok intelijen Amerika Serikat (AS)” telah ditarik dari pangkalan militer Habaniyyah di timur Ramadi menyusul pergerakan maju Brigade Hizbullah di sekitar pangkalan.

“Mereka menarik duru dari lokasi itu sebelum batalyon Brigade Hizbullah tiba di sana,” katanya.

Banyak politisi Irak mengecam pedas AS dan menuduhnya tak serius memerangi ISIS di Irak. Mereka juga menuduh AS menunjukkan gelagat untuk memeceh belah Irak dengan motif sektarianisme mazhab dan ras dan dengan cara membiarkan ISIS menebar angkara murka di negara ini.

Seperti diketahui, Ramadi dikuasai ISIS sejak 17 Mei lalu. Kondisi ini membuat pemerintah Irak meloloskan keterlibatan al-Hashd al-Shaabi dalam perang Anbar melawan ISIS setelah sebelumnya selalu dihalangi oleh berbagai pihak, termasuk AS, dengan dalih mencegah kemungkinan terjadinya konflik sektarian di kawasan luas Anbar yang mayoritas penduduknya Sunni.

Namun, sejak ISIS menguasai Anbar, berbagai pihak, termasuk para pejabat lokal Anbar akhirnya mendukung keterlibatan kelompok relawan itu dalam penumpasan ISIS di provinsi ini.

Anggota parlemen Irak Ammar al-Shibli dari fraksi Kedaulatan Hukum mengklaim bahwa 90 persen tokoh suku-suku Sunni Irak di Anbar sebenarnya sejak awal menghendaki masuknya al-Hashd al-Saabi, namun ada sekelompok kecil kalangan telah “berkhianat” dan getol menghalanginya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL