Tripoli, LiputanIslam.com –   Dewan Tinggi Rekonsiliasi di Tripoli, ibu kota Libya, meminta para orang tua, tokoh dan agamawan di wilayah timur negara ini agar menarik anak-anak mereka dari pasukan yang dipimpin oleh Khalifa Haftar agar “tidak menjadi bahan bakar perang”.

Dalam sebuah statemen yang dirilis Minggu (7/4/2019), dewan itu menyatakan bahwa di saat bangsa Libya berharap gejolak politik di negara ini dapat diselesaikan melalui proses dialog yang disponsori PBB, penduduk Tripoli dan bahkan khalayak dunia dikejutkan oleh pergerakan pasukan Haftar menuju Tripoli.

Statemen itu menyebutkan bahwa Tripoli dihuni oleh lebih dari setengah populasi Libya, dan menyerukan kepada Dewan Presiden Pemerintah Rekonsiliasi (al-Wefaq) yang diakui secara internasional agar bertanggungjawab melindungi warga sipil.

Dewan yang dibentuk pada Februari 2016 untuk menggalang rekonsiliasi dan perdamaian ini juga meminta para tokoh, agamawan, pejabat tinggi dan para bijakawan dari kawasan timur Libya agar bertanggungjawab dan berperan untuk mencegah perang dan pertumpahan darah sesama anak bangsa.

Sebelumnya di hari yang sama, juru bicara pasukan pemerintah koalisi, Kolonel Mohammed Qannouno, memulai operasi militer “Gunung Api Amarah”  untuk menghalau pasukan Haftar.

Pada Sabtu lalu terjadi kontak senjata sengit di pinggiran Tripoli dan kemudian pasukan Al-Wefaq berhasil merebut kembali posisi-posisinya yang sempat jatuh ke tangan pasukan Haftar pada hari Jumat.

Ahad kemarin pasukan Haftar mengaku pihaknya mulai melancarkan serangan udara di pinggiran Tripoli, sementara pasukan kubu al-Wefaq mengaku melancarkan “serangan balik” untuk mempertahankan ibukota.

Menurut Kementerian Kesehatan pemerintahan rekonsiliasi nasional yang bermarkas di Tripoli, sedikitnya 21 orang tewas dan 27 lainnya luka-luka sejak terjadi serangan pasukan Haftar ke Tripoli.  (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*