raqqah suriahRaqqah, LiputanIslam.com –  Pasukan gabungan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi Suriah (YPG) dan Pasukan Kebebasan Suriah (FSA) yang didukung jet tempur pasukan koalisi internasional telah menguasai distrik Saluk yang menjadi salah satu pangkalan terpenting kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di utara kota Raqqa.

Kantor berita Turki Anatolia Minggu (14/6) melaporkan bahwa pasukan gabungan tersebut berhasil menguasai sejumlah desa di utara dan timur laut Saluk setelah terlibat pertempuran melawan ISIS selama tiga hari.

Komandan Brigade Pembebasan FSA Mostafa al-Safrani sebelum itu mengatakan kepada Anatolia, “Pasukan gabungan bergerak maju di desa-desa Razaki, Rafah, Qalaj, Dardu, Ranim, Dara Quneitra dan Khuwairalah di sebelah timur kota Tal Abyad, dan kini sudah berada di jarak 5 km dari kota ini serta mencapai kawasan sekitar distrik Saluk bagian utara dan timur.

“Sebagian besar anggota ISIS mundur dari distrik Saluk setelah memasang bahan peledak di sebagian rumah di sana, dan ini menyebabkan serangan pasukan gabungan terhambat,” katanya.

Perkembangan ini terjadi setelah pasukan gabungan itu memulai operasinya pada pekan lalu terhadap posisi-posisi ISIS dengan dukungan serangan udara koalisi di desa-desa al-Wusta, Raibar, Shaari dan Aliyah di Rif Hasakah di timur laut Suriah.

Di bagian lain, kantor berita resmi Suriah, SANA, memberitakan klaim pasukan pemerintah Suriah (SAA) bahwa sebanyak 150 anggota ISIS terbunuh di tangan SAA di sekitar Bendungan Zaizun di Idlib dan beberapa kawasan di utara provinsi Hamah.  .

“Tentara Suriah telah menahan serangan masif para teroris takfiri terhadap Bendungan Zaizun, dan banyak teroris terbunuh dan cidera dalam peristiwa ini. Para teroris menderita kerugian berat. Selain menderita kerugian perlengkapan dan persenjataan, sebanyak 150 orang di antara mereka tewas di kawasan sekitar desa Tal Khatab, Tal al-Awar, Bendungan Zaizun dan kawasan pabrik gula – desa al-Kafar di Jisr al-Shoghour,” ujar sumber militer Suriah.

Berbagai kelompok pemberontak dan ekstrimis bersenjata sejak empat tahun lalu menebar kekerasan dan berperang melawan pasukan pemerintah Suriah dengan dukungan dana dan logistik dari banyak negara yaitu Turki, Arab Saudi, Qatar, Yordania, Israel dan beberapa negara Barat, terutama Amerika. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL