Damaskus, LiputanIslam.com – Para pengungsi, Rabu (30/5/2018), mulai kembali ke kamp Yarmouk yang baru dibebaskan oleh tentara Suriah di selatan Damaskus, ibu kota negara ini, dari pendudukan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Sebagian besar bangunan di kamp pengungsi Palestina itu hancur, tapi warga sipil mulai kembali ke sana, sementara tentara Suriah di gerbang kamp ini memeriksa ketat dokumen warga yang akan masuk.

Rima al-Qudrah, salah seorang penduduk Yarmouk mengatakan, “Keluarga kami segera kabur ketika kawanan bersenjata datang; Ayahku, aku, suamiku, dan anak-anak. Tapi putriku yang berusia 3 tahun terbunuh akibat tembakan teroris di Damaskus.”

Di jalanan kamp Yarmouk masih berserakan puing dan rerutuhan serta alat-alat tempur yang terbakar milik kawanan teroris, namun pemerintah Suriah sudah mulai proses pembersihan reruntuhan serta mengerahkan tim-tim ahli untuk menyapu ranjau dan bahan-bahan peledak aktif lain.

Pada April lalu tentara Suriah yang dibantu tentara Rusia berhasil membebaskan kawasan Ghouta Timur dan bagian timur kawasan Qalamoun di utara Damaskus. Sedangkan para Mei ini tentara Suriah berhasil membebaskan beberapa distrik di selatan Damaskus, termasuk kamp Yarmouk.

Sementara itu, kelompok teroris Jabhat al-Nusra menyerukan kepada segenap anggotanya di selatan Suriah agar bersiap menghadapi operasi militer tentara Suriah di kawasan ini.

Seruan itu disampaikan setelah beredar laporan mengenai adanya kesepakatan segi empat Rusia, Suriah, AS, dan Yordania mengenai operasi militer tentara Suriah tanpa pasukan Iran di selatan Suriah, sehingga tentara Suriah kemudian menyiapkan operasi militer ke Quneitra.

Adanya kesepakatan itu membuat kawanan teroris belakangan ini merasa dikhianati oleh kubu Barat yang selama ini menyokong mereka namun sekarang membiarkan mereka di depan operasi militer Suriah.

Karena itu, Abu Jabir al-Shami, komandan kelompok teroris Hayat Tahris Sham -yang komponen utamanya adalah Jabhat al-Nusra- di provinsi Daraa menginstruksikan kepada segenap anggotanya agar bersiap melawan operasi militer Suriah di kawasan ini.

Di bagian utara Suriah pada Selasa lalu terjadi unjuk rasa akbar penduduk kota Raqqa menuntut keluarnya Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) dukungan Amerika Serikat dari kota ini menyusul terjadinya penerapan wajib militer terhadap para pemuda dan penangkapan secara sewenang-wenangan terhadap penduduk setempat.

Surat kabar Suriah al-Wathan mengutip pernyataan sumber-sumber lokal bahwa SDF berusaha membubarkan unjuk rasa itu dengan melepaskan tembakan dengan peluru tajam, namun tak ada laporan mengenai jatuhnya korban. (mm/sputnik/farsnews/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*