koalisi anti isisRiyadh, LiputanIslam.com – Sumber-sumber diplomatik Arab Saudi Selasa (17/2/2015) mengatakan bahwa para komandan senior angkatan bersenjata negara-negara anggota koalisi internasional anti kelompok teroris ISIS akan mengadakan sidang di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, untuk mengevaluasi jalannya perang melawan ISIS.

“Sidang dua hari ini akan dimulai pada hari Rabu (18/2/2015), dan merupakan kelanjutan dari perundingan sebelumnya di mana semua negara anggota koalisi anti ISIS pimpinan Amerika Serikat (AS), termasuk negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC), akan menghadirinya,” ungkap seorang narasumber diplomatik Saudi, sebagaimana dilansir AFP.

Narasumber yang meminta namanya dirahasiakan oleh menambahkan, “Saya yakin rapat ini mengagendakan sebentuk evaluasi umum terhadap situasi kontemporer serta apa yang seharusnya terjadi dan dilakukan.”

Sumber diplomatik lain mengatakan bahwa rapat ini lebih merupakan pertemuan untuk pertukaran informasi serta menjadi kesempatan untuk menggalang koordinasi dalam proses pengambilan keputusan-keputusan krusial.

Perundingan antarkomandan angkatan bersenjata itu terjadi bersamaan dengan munculnya fenomena ISIS di Libya sehingga menambah kerisauan negara-negara regional.

Sejak terjadi aksi pembakaran hidup-hidup pilot Yordania, Moaz al-Kasasbeh, oleh ISIS negara-negara Arab terlihat meningkatkan intensitas serangan udara terhadap ISIS.

Menteri Informasi Yordania Senin lalu (16/2/2015) mengabarkan bahwa beberapa jet tempur Bahrain telah ditempatkan di Yordania untuk membantu serangan Yordania terhadap ISIS.

Arab Saudi ikut melancarakan serangan udara terhadap ISIS di Suriah sejak September 2014.

Kementerian Pertahanan AS, Pentagon, bulan lalu menyatakan bahwa untuk pertama kalinya sekelompok pasukan AS sebanyak sekitar seribu personil akan segera dikirim ke Saudi, Turki dan Qatar untuk melatih kelompok-kelompok oposisi Suriah yang pro Barat.

Negara-negara Barat yang terlibat dalam serangan udara terhadap ISIS bersama AS adalah Austalia, Belgia, Inggris, Kanada, Denmark, Perancis dan Belanda, sementara Jerman sejak Desember 2014 telah mengirim sekitar 100 personil militernya ke bagian utara Irak untuk melatih perang pasukan Kurdi Peshmerga melawan ISIS. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL