Brussel, LiputanIslam.com –   Para pakar militer dari Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Prancis gagal mencegat sebagian besar rudal dan pesawat nirawak pasukan Ansarullah Yaman yang menggempur sasaran-sasaran militer dan bandara-bandara di Arab Saudi, dan mereka akan semakin sulit ketika pasukan Ansarullah menggunakan rudal cruise. Demikian disebutkan dalam sebuah artikel yang dimuat oleh media online berbahasa Arab Rai al-Youm yang bermarkas di London, Inggris, Rabu (12/6/2019).

Menurut media ini, laporan mengenai serangan udara Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) selama tiga tahun terakhir ini sudah menjadi berita “biasa”. Tapi belakangan ini, berita keberhasilan pesawat nirawak dan rudal Ansarullah dalam serangan ke berbagai sasaran, termasuk bandara, di kedalaman wilayah Saudi ternyata juga sudah menjadi berita yang “sangat biasa” ketika dalam beberapa pekan terakhir ini intesitasnya meningkat.

Baca: Pasukan Yaman Merudal Bandara Abha di Saudi

“Ansarullah semula hanya mengandalkan rudal balistik, tapi sekarang juga mulai menggunakan rudal cruise yang presisinya lebih tinggi sehingga memerlukan kesiapan khusus. Selain itu, mereka juga meningkatkan pengerahan pesawat nirawak,” tulis Rai al-Youm.

Media ini menjelaskan bahwa sekarang merupakan kali kedua Ansarullah menembakkan rudal cruise terhadap negara-negara anggota pasukan koalisi yang melancarkan operasi militer bersandi “Badai Mematikan” terhadap Yaman, setelah kali pertama dilakukan dengan sasaran reaktor nuklir di Abu Dhabi, UEA, pada Desember 2017.

Baca: Pasukan Yaman Ungkap Hasil Serangan ke Bandara Abha Milik Saudi

Juru bicara pasukan koalisi Kol. Turki al-Maliki mengakui bahwa rudal itu menerjang Bandara Abha hingga menjatuhkan 26 korban luka. Saudi biasanya membantah rudal Yaman mengena sasaran, tapi kali ini membuat pengakuan dengan menyatakan bahwa rudal Yaman telah menerjang ruang tunggu di bandara.

Saudi menjalin kontrak dengan para pakar militer AS, Inggris, dan Prancis, terutama yang bekerja di sistem pertahanan udara, untuk mencegat serangan rudal balistik, pesawat nirawak, dan kini juga rudal cruise.  Saudi menempuh langkah ini pada akhir tahun 2017 setelah Ansarullah berhasil menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, ibu kota Saudi, dengan rudal balistik yang tak tercegat oleh sistem payung udara Patriot buatan AS.

Baca: Bahrain Klaim Bandara Abha Diserang dengan Senjata Iran

Menurut The New York Times, pada akhir tahun 2018 Kementerian Pertahanan AS, Pentagon, telah mengizinkan pengiriman pasukan khusus ke berbagai wilayah di Yaman untuk menemukan lokasi-lokasi peluncuran rudal balistik Ansarullah, tapi mereka gagal. Saat itu Pentagon bermaksud meringankan tekanan yang menimpa Saudi sekaligus membatasi penembakan rudal balistik setelah Patriot gagal menangkis sebagian besar rudal Yaman agar reputasi sistem ini tidak kian memburuk di mata dunia.

Di bagian akhir, Rai al-Youm menyebutkan, “Kegagalan para ahli Barat mencegat sebagian besar rudal yang melesat dari Yaman membuat Saudi berhadapan dengan hari-hari sulit, dan membuktikan kerapuhan persenjataan khusus sistem pertahanan udara dan radar pemantau.” (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*