Beirut, LiputanIslam.com – Pakar Lebanon urusan Timteng dan Teluk Persia Nidal Al-Sabeh menilai Arab Saudi sekarang berada posisi terjepit sepekan setelah berkembang dugaan bahwa Riyadh telah memaksa Saad Hariri mundur dari jabatan perdana menteri Lebanon.

Al-Sabeh, Ahad (12/11/2017), menyatakan bahwa Saudi terjepit setelah Presiden Lebanon Michel Aoun mendesak Saudi agar menjelaskan sebab mengapa Hariri tidak pulang ke Lebanon, dan ini terjadi bersamaan dengan merebaknya tuntutan di dalam dan luar negeri Lebanon untuk menyingkap apa yang sebenarnya terjadi pada Hariri.

Menurut Al-Sabeh, Saudi ingin menularkan krisisnya di Yaman ke Lebanon dengan cara menekan Hariri agar meletakkan jabatan setelah membuat narasi yang dibantah oleh pihak keamanan Lebanon bahwa keselamatan Hariri terancam sehingga dia mundur.

“Sudah jelas bahwa Saudi bertujuan menggoyang Hizbullah secara politik di Lebanon, dan berusaha memblokade Hizbullah melalui demonstrasi di Beirut yang menuntut pelucutan senjata Hizbullah, sebagaimana terjadi pada tahun 2005 pasca pembunuhan Rafik Hariri (ayah Saad Hariri yang saat itu juga menjabat perdana menteri) yang hasilnya antara lain keluarnya tentara Suriah dari Lebanon,” papar Al-Sabeh.

Dia menambahkan, “Mundurnya Hariri sekarang berubah menjadi kartu yang justru menekan Saudi akibat solidaritas rakyat dan pemerintah Lebanon, terutama setelah fraksi al-Mustaqbal di parlemen dan kelompok al-Mustaqbal (kelompok Hariri berasal) dua hari lalu justru meminta Hariri pulang ke Lebanon serta menolak keinginan Saudi mengangkat kakak Saad Hariri, Bahaa Hariri, sebagai penggantinya.”

Al-Sabeh mengatakan, “Tentu, Saudi tak menduga sebelumnya bahwa pengunduran diri Hariri dengan dalih Hizbullah akan berubah menjadi desakan internasional untuk pembebasan kepala negara Lebanon Saad al-Hariri sehingga berbagai pertanyaan bahkan mengarah ke Riyadh agar menjelaskan kondisi Hariri, dan Rusiapun berbicara mengenai kemungkinan pengangkatan masalah ini di Dewan Keamanan (PBB).”

Dia menilai Saudi terpaksa akan memenuhi desakan tegas mengenai keharusan Hariri pulang, terutama setelah kampanye perang Saudi tidak membuahkan hasil, dan Saudi juga tak sanggup melancarkan serangan militer terhadap Hizbullah sendirian, apalagi Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menolak tindakan ini.  (mm/sputnik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL