TelAviv, LiputanIslam.com –  Langkah yang ditempuh oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar dinilai oleh orientalis Rusia Sergey Demidenko disebabkan oleh akumulasi peranan Qatar di kawasan sejak 2010 bersamaan dengan kemunculan fenomena Arab Spring yang didukung penuh oleh Qatar.

Demidenko menjelaskan bahwa sejak itu terjadi persaingan ketat antara Saudi dan Qatar di Mesir dan Suriah. Dengan kekuatan dananya yang besar, Qatar berusaha memperkuat pengaruh politiknya di kawasan persis seperti apa yang dilakukan oleh Saudi selama bertahun-tahun sehingga negara-negara Teluk lainnya tunduk kepada Saudi.

Menurut Demidenko, pukulan negara-negara Teluk terhadap Qatar melalui pemutusan hubungan diplomatik akan membuat Doha terpisah dari semua negara sekutunya tanpa ada satupun yang tersisa.

“Terus terang saya tidak tahu siapa yang masih akan bersekutu dengan Qatar? Apakah Qatar bersahabat dengan Aljazair atau Maroko, misalnya? Tapi saya kira dua negara ini akan bertahan netral dalam perselisihan Teluk,” ungkapnya.

Dia menduga bahwa pemutusan hubungan diplomatik dan blokade tidak akan menghalangi Qatar karena negara ini memiliki lobi-lobi yang dapat digunakan sebagai kekuatan penekan di Washington, London, dan Brussel.  Selain itu, Qatar juga merupakan negara kaya yang mengekspor gas ke Cina serta memiliki investasi miliaran USD di Inggris dan Perancis sehingga Qatar akan bereaksi pada saatnya yang tepat  dan tidak akan kalah. (mm/sputnik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL