Damaskus, LiputanIslam.com –   Sumber yang dekat dengan kubu oposisi Suriah menyatakan bahwa kelompok-kelompok bersenjata di bagian selatan negara ini kuatir terhadap nasibnya karena Yordania berkemungkinan menelantarkan mereka sehingga mereka berusaha mencari jalan keluar setelah pemerintah Suriah dan Rusia menegaskan keharusan perlucutan senjata oposisi.

Kepada surat kabar Suriah Al-Watan sumber anonim itu mengatakan bahwa sehari setelah gagalnya pertemuan terakhir  “sipil militer” bertema “Konferensi Revolusi  Pertama di Hauran”  sebanyak lima milisi terkemuka di selatan membuat imbauan pengadaan pertemuan untuk mencari jalan keluar dengan membuat pernyataan sikap mengenai eksistensi  dan kekuasaan mereka di kawasan Hauran.

Dalam pernyataan yang dipublikasi melalui beberapa laman internet mereka menyatakan menolak pembentukan “komando militer gabungan” yang dicanangkan sebagai representasi kawasan itu secara militer.

Sebelumnya, Yordania mengusulkan supaya kelompok-kelompok oposisi menjauh dari jalur yang mengarah pada pintu perbatasan Nasib sejarak 10 kilometer di sepanjang jalur Al-Mar di zona de-eskalasi yang mencapai 17 kilometer, sebagai imbalan untuk pembukaan pintu perbatasan yang berada di bawah kendali pemerintah Suriah tersebut.

Namun, pemerintah Suriah menolak usulan itu dan malah menekankan desakan Rusia mengenai penyerahan senjata oposisi serta penyebaran para pengawas dari Rusia di jalur tersebut untuk menjamin keamanan lalu lintas para pengguna jalur.

Sejauh ini Yordania tidak mendukung desakan ini dengan dalih perlucutan senjata justru berpotensi mengubah kubu oposisi menjadi kelompok teroris. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL