bahrain childrensManama, LiputanIslam.com – Partai Oposisi Bahrain, al-Wifaq, menyatakan pemerintah Bahrain telah menangkap lebih dari 200 anak usia sekolah dalam berbagai peristiwa penggerebekan aparat keamanan Bahrain terhadap ruma-rumah dan sekolah-sekolah mereka sepanjang tahun 2013.

Dalam laporannya yang berjudul “Bahrain: Penindasan – Bayangan Tirani” yang dirilis Kamis lalu, Departemen Kebebasan dan HAM (LHRD) yang bernaung di bawah al-Wifaq telah mendaftar berbagai aksi pelanggaran HAM yang dilakukan rezim Bahrain sepanjang tahun 2013.

Dalam laporan setebal 130 halaman itu disebutkan bahwa pasukan pemerintah Bahrain pada tahun lalu telah menangkap 204 anak kecil dan remaja yang sebagian besar diringkus dalam peristiwa penggerebekan terhadap rumah-rumah mereka, sedangkan sebagian lain dicokok ketika berada di sekolah.

Menurut laporan ini, di antara ratusan anak itu terdapat anak berusia 11 tahun yang dikenai beberapa dakwaan yang sama sekali tidak pantas untuk anak sekecil itu, yaitu dakwaan menciderai aparat keamanan, merusak dua unit mobil milik Kementerian Dalam Negeri, dan mengganggu ketertiban umum. Semua dakwaan ini ditolak anak tersebut sambil menangis tersedu.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa rezim Bahrain melakukan 7,372 kasus penangkapan secara sewenang-wenang sepanjang tahun 2011 hingga 2013. Selain itu, rezim Bahrain juga melakukan dekonstruksi struktur keagamaan serta menerapkan pengekangan terhadap kebebasan beragama.

“Kondisi HAM di Bahrain telah mencapai level yang berbahaya. Penduduk Bahrain mengalami berbagai benteuk pelanggaran…, termasuk pembunuhan, penyiksaan dan penangkapan,” ujar Sayed Hadi al-Musawi, ketua LHRD.

LHRD mengecam kebungkaman khalayak internasional dan menyebut mereka justru asyik menonton adegan-adegan pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah Bahrain secara terbuka. “Mereka berdiri di tepi dan menonton berlanjutnya pelanggaran HAM di tengah gelanggang yang terjadi secara mengerikan di siang bolong,” ungkap LHRD.

Bahrain sering dilanda unjuk rasa pro demokrasi secara besar-besaran sejak pertengahan Februari 2011. Ribuan massa di berbagai wilayah negara pulau di Teluk Persia ini menuntut dinasti al-Khalifa turun dari tahta serta menyerahkan kedaulatan kepada rakyat.

Meski dilancarkan secara damai, unjuk rasa itu selalu dihadapi aparat dengan aksi kekerasan yang mengakibatkan puluhan orang tewas dan ratusan lainnya cidera. Selain itu banyak aktivis dan demonstran dijebloskan ke dalam penjara. (mm/presstv/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL