iran qassem soleimani di irak

Jenderal tersohor Iran Qassem Soleimani (duduk sebelah kiri) di Irak.

Teheran, LiputanIslam.com – Koran Observer dalam editorialnya untuk edisi Minggu (8/23/2015) memuat catatan mengenai besarnya peranan Iran dalam perang di Tikrit ketika Amerika Serikat (AS) dan Inggris justru duduk manis menjadi penonton.
Koran Inggris ini engklaim bahwa operasi Tikrit semula terlihat layak diapresiasi -karena pasukan Irak yang tadinya selalu gagal kali ini dapat berperang dengan baik melawan ISIS- belakangan justru menimbulkan masalah berupa menjurusnya perang ini kepada konflik sektarian, yakni perang antara milisi Syiah dan penduduk Sunni Tikrit.

Menurut Observer, operasi Tikrit berpotensi menimbulkan instabilitas yang lebih besar berupa kemenangan strategi Iran karena milisi Syiah al-Hasyd al-Syakbi (Mobilisasi Rakyat) lebih merespon Teheran daripada Baghdad.

“Iran telah membekali mereka dengan senjata dan pelatihan. Jenderal tersohor Iran, Qassem Suleimani, komandan pasukan elit Quds dari Korps Garda Revolusi dilaporkan secara pribadi telah mengambil alih operasi itu pekan lalu,” tulis Observer.

Koran ini juga menyorot masalah tidak adanya permintaan dari pihak Irak supaya AS ikut andil dengan melancarkan serangan udara.

“Ini tidak mengejutkan, sebab Teheran, sebagaimana Washington, karena berbagai faktor historis dan politik, tidak ingin menunjukkan hasrat kerjasama secara terbuka, walaupun untuk melawan musuh bersama,” ungkap Obserser.

Koran ini melanjutkan, “Jelas bahwa Iran ingin menang sendirian dalam perang Irak pasca era pendudukan, untuk kemudian mendapatkan keunggulan pengaruh di kawasan, hal yang gagal dicapai oleh Washington dan sekutunya setelah tahun 2003.”

Menurut Observer, Perang Iran-Irak yang pernah berlangsung delapan tahun kini tampak sudah terlupakan. Iran yang telah diundang oleh perdana Irak sebelumnya, Nouri al-Maliki, kini justru terus mengembangkan pengaruh dan kepentingannya di Irak.
Observer mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Arab Saudi; “Apa yang terjadi di Tikrit adalah apa yang kita khawatirkan. Iran mengambil alih Irak.”

Di bagian akhir editorialnya  Observer mengingatkan bahwa AS dan Inggris tidak memiliki kebijakan yang ampuhdan holistik terhadap Iran dan Irak, dan bahkan keduanya sudah menjadi penonton. Apa yang dapat dilakukan keduanya hanyalah berharap supaya perkembangan situasi membuahkan hasil yang terbaik, sebagaimana dikatakan Jenderal Martin Dempsey, kepala staf gabungan AS bahwa peran kepemimpinan Iran “bisa jadi merupakan sesuatu yang positif”, sementara kenyataannya mungkin tidak demikian. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*