Iran-saudiRiyadh, LiputanIslam.com – Sikap Washington terhadap Teheran terlihat kian melunak. Sebagaimana dikutip Fars News Agency, situs berita Arab Saudi Elaph menyebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dalam pertemuan dengan Menteri Garda Nasional Arab Saudi Mutaib bin Abdullah bin Abdulaziz di Washington, AS, telah meminta Riyadh supaya memulihkan hubungan dengan Teheran.

Menurut Elaph, berita mengenai permintaan Obama tersebut dinyatakan dengan nada sinis oleh seorang narasumber dari salah satu negara Arab Teluk Persia. Dia juga mengatakan AS sendiri berharap dapat mengatasi perselisihannya dengan Teheran.
“Biarlah (AS) mencoba menjalin hubungan dengan Teheran, sebab mereka sendiri (AS) yang akan menanggung resikonya,” katanya.

Elaph juga menyebutkan bahwa Mutaib belakangan ini telah memulai kunjungannya selama beberapa hari ke AS, dan Washington berusaha memperpanjang masa kunjungan ini bersamaan dengan dimulainya perundingan nuklir tahap final AS dengan Iran.

Menurut narasumber yang tak disebutkan identitasnya itu, Obama dalam pertemuan dengan Mutaib berulangkali menyarankan supaya Riyadh memperbaiki hubungan dengan Teheran.

“Tampaknya Obama berusaha memanfaatkan kedekatan hubungan Pangeran Mutaib dengan ayahnya, Raja Abdullah, supaya menyampaikan pesan mengenai hubungan Arab Saudi dengan Iran ini,” katanya.

Dalam jumpa pers usai pertemuan sekitar satu jam dengan Obama, Mutaib mengaku telah mengadakan pembicaraan dengan Obama mengenai perkembangan Timur Tengah, termasuk terkait isu nuklir Iran.

Sementara itu, mengenai perundingan nuklir Iran dengan AS sendiri, seorang pejabat tinggi AS Ahad (23/11) mengatakan bahwa AS telah mengusulkan supaya tenggat waktu perundingan itu diperpanjang.

Sebagaimana dikabarkan Associated Press, pejabat tersebut mengatakan bahwa usulan itu dikemukakan sendiri oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) John Kerry dalam pertemuan dengan sejawatnya dari Iran, Mohammad Javad Zarif.

Pejabat yang juga tak disebutkan identitasnya itu lantas berkesimpulan bahwa usulan itu menunjukkan bahwa AS sudah memastikan bahwa kesepakatan tidak akan bisa dicapai hingga tenggat waktu yang berakhir hari ini, Senin 24 November 2014, tersebut.

Menlu AS dan Menlu Iran mengadakan pertemuan bilateral tahap pertama di Wina Ahad (23/11). Pertemuan sebelum itu antara keduanya dihadiri oleh Catherine Ashton selaku koordinator kebijakan politik luar negeri Uni Eropa.

Berbagai sumber di Barat melaporkan bahwa Iran dan kelompok 5+1 (anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa plus Jerman) kemungkinan hari ini akan mengumumkan hasil “kesepakatan politis tak tertulis”, dan sesuai kesepakatan ini kedua pihak memiliki waktu dua bulan untuk menentukan rincian pendekatan yang komprehensif terkait program nuklir Iran. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL