israel-iran-warNewYork, LiputanIslam.com – Mingguan Newsweek menyorot semakin mesranya hubungan antara pemerintah Iran yang Syiah dan Hamas yang Sunni dan menganggapnya sebagai kendala besar besar bagi Israel, apalagi keduanya sama-sama mengedepankan isu Islamisme. Mingguan terbitan New York, Amerika Serikat (AS), ini juga mengutip pernyataan pejabat Israel dan peneliti bahwa perang yang terjadi di Gaza belakangan ini sebenarnya adalah perang Iran melawan Israel.

Dalam artikelnya yang ditulis oleh kolumnis New York Post, Benni Avny, 5 Agustus lalu Newsweek menilai menguatnya kembali hubungan Hamas dan kelompok-kelompok pejuang Palestina dengan Republik Islam Iran sebagai sesuatu yang menyakitkan bagi harapan akan membaiknya masa depan perdamaian di Timur Tengah.

“Teheran sudah lama menjadi pemasok utama senjata militan Hamas di Gaza. Hamas sendiri, seperti halnya pemerintah Iran, adalah kelompok fundamentalis yang meyakini (keharusan) penyebarluasan Islam dan penerapannya dalam undang-undang negara di Timur Tengah dan sekitarnya,” tulis Avny sembari menyebutkan Iran sebagai kekuatan yang dominan di kalangan Islam Syiah, sedangkan Hamas yang merupakan “cabang kelompok terlarang yang berbasis Mesir, Ikhwanul Muslimin” adalah bagian dari dunia Sunni.

Teheran disebut-sebut telah mengatasi banyak problema Hamas dalam perang melawan Israel di Jalur Gaza serta mengajak negara-negara Islam lainnya supaya mengikuti langkah Iran mempersenjatai para pejuang Palestina. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Grand Ayatollah Khamenei selaku panglima tertinggi angkatan bersenjata Iran pada bulan Juli lalu juga menentang keras seruan Presiden AS Barack Obama untuk perlucutan senjata Hamas .

Tentang ini Newsweek menyebutkan bahwa larangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekalipun tetap tidak dapat menghadang langkah Iran mempersenjata para sekutunya. Mingguan ini lantas menyebutkan bahwa sebagaimana dikatakan oleh para pejabat Israel, perang yang terjadi di Gaza belakangan ini sebenarnya adalah perang Iran terhadap Israel.

Benni Avny mengutip pernyataan rekannya, Ali Alfoneh, periset asal Iran di Lembaga Pertahanan Demokrasi. Menurutnya, Alfoneh mengatakan, “Perang Gaza telah menjadi kado istimewa bagi Khamenei. Sejak pecah perang sipil di Suriah, Teheran diam-diam berusaha mencari formula ajaib untuk mengamankan kelangsungan hidup rezim Assad, yang di saat yang sama tidak mengasingkan militan Sunni Palestina.”

Avny menilai Teheran sekarang lebih percaya diri soal kelangsungan hidup dan masa depan rezim Assad, termasuk menyangkut mesranya kembali hubungan Damaskus dengan Hamas.

Lebih jauh, Newsweek mengutip pernyataan Jonathan Halevi, peneliti gerakan Islam radikal asal Kanada pada Jerussalem Center untuk Urusan Publik. Dia mengatakan bahwa meskipun terjadi perselisihan antara Sunni dan Syiah, tetapi kelompok Ikhwanul Muslimin antusias menyambut revolusi Islam Iran pada tahun 1980.

Menurut Halevi, tak seperti kelompok-kelompok Sunni lainnya di Timteng, Ikhwanul Muslimin dan Hamas terus memperkuat aliansinya dengan Iran.

“Ini bukan karena mereka tidak berselisih dengan dunia Syiah, melainkan karena mereka melihat Iran telah menjelma sebagai adidaya,” ungkap Halevi. Dia menambahkan bahwa karena itu Iran memandang Hamas sebagai meriam dalam perang besarnya melawan interes AS dan Israel di Timur Tengah. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL