bom saudi di yamanSanaa, LiputanIslam.com – Sebuah artikel berjudul Tragedi Yaman di koran New York Times (NYT) menilai perang yang dikampanyekan dan dilancarkan Arab Saudi dan sudah berlangsung empat minggu hanya menghasilkan tragedi kemanusiaan dan gagal mewujudkan ambisi rezim Riyadh untuk melemahkan kekuatan milisi Houthi.

“Ada banyak indikasi yang menunjukkan bahwa serangan udara Arab Saudi ke Yaman setelah berjalan empat minggu ternyata hanya menghasilkan keterbunuhan 1000 orang, terlukanya 4000 orang lainnya, pengungsian 150,000 orang, blokade bahan pengan dan obat-obatan dan terputusnya distribusi air,” tulis NYT, sebagaimana dikutip situs berita al-Khabar yang berbasis di Yaman, Minggu (25/4).

NYT menyatakan tragedi pembantaian di Yaman harus segera dihentikan, bantuan bahan makanan harus cepat dikirim, dan perundingan damai harus segera dimulai. Dalam hal ini, prakarsa diplomatik PBB mengalami beberapa perkembangan, namun tidak mendapat dukungan dan perhatian yang memadai dari Dewan Keamanan PBB.

Mengenai tujuan Saudi dalam serangan ke Yaman, NYT menyebutkan, “Saudi mengira akan dapat melemahkan Ansarullah dengan cara melancarkan serangan udara ke berbagai kawasan permukiman dan markas Ansarullah, namun yang kita lihat justru pasukan kelompok ini tetap kuat dan eksis di lapangan.”

Menurut NYT, solusi politik hampir tidak mungkin bisa dicapai, sebab konsekwensinya ialah Saudi harus mengakui Ansarullah dan memandangnya sebagai bagian dari kekuatan yang berkuasa di Yaman. Namun jika ini tercapai maka ini menjadi satu-satunya penyelesaian yang dapat menghasilkan stabilitas Yaman, dan pada giliranya semua upaya internasional dan Yaman sendiri akan terfokus pada penumpasan kelompok teroris al-Qaeda yang sekarang menjadi satu-satunya pihak yang diuntungkan oleh kekacauan di semenanjung Arab.
NYT juga menilai bahwa faktor yang paling memicu “petualangan” Saudi di Yaman ialah kepanikan Saudi menyaksikan menguatnya kemungkinan tercapainya perundingan nuklir Iran dengan enam negara yang lazim disebut P5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman). Sebab Saudi beranggapan perjanjian Iran dengan dunia Barat ini akan segera menyulap Iran menjadi poros yang dominan di Timur Tengah serta menjurus pada rekonsiliasi Iran-AS yang pada gilirannya akan membahayakan hubungan strategis Washington – Riyadh.

Karena itu, lanjut NYT, para pejabat AS di satu sisi lantas berusaha menenangkan negara-negara Arab Teluk Persia dengan menegaskan kontinyuitas bantuan kepada mereka dalam menghadapi Iran di satu sisi, dan dan di sisi lain Washinton mendorong Iran supaya menjalin hubungan bilateral yang positif dan tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara Arab Teluk Persia. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL