AlQuds, LiputanIslam.com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengaku tidak akan menyerahkan Jalur Gaza kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas alias Abu Mazen, dan mengatakan bahwa perpecahan Palestina antara Jalur Gaza dan Tepi Barat “tidak buruk” bagi Israel.

Dia juga menganggap bahwa “opsi sebenarnya ihwal Jalur Gaza adalah menduduki dan menguasainya.”

Netanyahu membuat pernyataan demikian dalam wawancara eksklusif dengan surat kabar Israel Hayom yang hasilnya diterbitkan pada hari Jumat (5/4/2019), empat hari menjelang pemilihan umum parlemen Israel yang akan diadakan pada Selasa mendatang.

“Mereka (Gaza dan Tepi Barat) adalah entitas yang terpisah, dan saya pikir dalam jangka panjang ini tidaklah buruk bagi Israel,” ujarnya.

Dia melanjutkan, “Abu Mazen sengaja mengurangi aliran dana otoritas Palestina ke Gaza. Dia percaya bahwa dengan bertindak demikian dia bisa memanaskan kawasan ini, sementara kita akan membayar harga menduduki Gaza dengan kehilangan banyak nyawa. Di atas punggung Israel, Mahmoud Abbas akan mendapatkan Gaza di atas talam perak, tapi ini tidak akan terjadi. ”

Netanyahu dalam pernyataan itu mengacu pada langkah-langkah yang diterapkan oleh Presiden Palestina Abbas di Jalur Gaza sejak April 2017, termasuk pengurangan gaji dan alokasi pemerintah lainnya, yang meningkatkan krisis keuangan, ekonomi dan kehidupan di Jalur Gaza.

Mengenai upaya mengurangi blokade yang belakangan ini ditengahi oleh Mesir, Qatar, dan PBB, sebagai imbalan atas kesediaan Hamas mengurangi aksi Great March of Return, Netanyahu mengatakan, “Dana ini ditanggung oleh Qatar, yang mencegah rencana Abu Mazen menghasilkan buah dan pemisahan Gaza dari Judea dan Samaria.” Judea dan Samaria adalah nama yang dipakai Israel untuk menyebut Tepi Barat.

“Jika ada yang berpikir bahwa akan ada negara Palestina yang akan mengelilingi kita di kedua sisi, ini tidak akan terjadi,” imbuhnya.

Netanyahu menetapkan tiga syarat bagi rencana AS untuk prakarsa“Deal of The Century” yang akan diajukan oleh Presiden AS Donald Trump.  Persyaratan itu ialah; mempertahankan semua permukiman Zionis; penguasaan penuh Israel atas Tepi Barat; dan tidak ada pembagian kota Yerusalem (Al-Quds/Baitul Maqdis).

Dia juga menyinggung Iran dengan menyebutnya negara besar Islam yang ekstrem dan berusaha mendapatkan senjata nuklir.

Jubir Kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudainah mengecam keras pernyataan Netanyahu itu dan menyebutnya “tak dapat diterima, menunjukkan upaya strategis Israel melanjutkan perpecahan dan menyiapkan negara kecil Gaza yang mengalah dalam soal al-Quds dan kesuciannya.”

Dia juga menilai “dukungan buta” AS kepada kebijakan imperialistik Israel” sebagai “penyebab ketegangan di Palestina dan kawasan.”

Sementara itu, aksi Great March of Return kembali melanda daerah perbatasan Gaza-Israel (Palestina pendudukan 1948), Jumat, sebagai kelanjutan upaya warga Palestina di Gaza untuk meneriakkan hak kepulangan seluruh pengungsi Palestina ke kampung halaman mereka, dan menutut pencabutan blokade atas Jalur Gaza.

Aksi ini kembali direaksi Israel dengan kekerasan sehingga sebanyak 83 orang dilaporkan cidera terkena gas air mata dan peluru yang ditembakkan oleh pasukan Israel ke arah kerumuman massa Palestina. (mm/raialyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*