Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah mengecam keras upaya rezim Arab Saudi menormalisasi hubungannya “secara gratis” dengan Rezim Zionis Israel. Dalam pidato televisinya untuk acara mengenang salah satu komandan militer Hizbullah Syahid Ismail Zahri , Jumat (29/7/2016), Nasrallah menilai pertemuan-pertemuan yang dilakukan secara terbuka oleh Pangeran Saudi Turki al-Faisal dengan para pejabat Israel serta kunjungan Jenderal (purn.) Saudi Anwar Eshki ke Israel merupakan tindakan yang sudah pasti dilakukan dengan persetujuan Kerajaan Arab Saudi. Dia juga memastikan bahwa Saudi bersekiras untuk melanjutkan perang di semua gelanggang, dan menolak dialog di Yaman, Bahrain dan Suriah. (Baca: Jenderal Purn. Saudi Berkunjung ke Israel)

“Israel sekarang secara formal sudah bukan lagi musuh bagi Arab, dan ini sudah diperlihatkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab belum lama ini, terutama di depan kunjungan-kunjungan Arab ke Israel. Normalisasi hubungan Saudi dengan Israel sekarang dilakukan secara gratis tanpa bandrol sama sekali… Rezim Saudi menghubungi Israel, menormalisasi hubungan, untuk kemudian mengakuinya dan menyesuaikan diri dengannya, dan fatwa-fatwa setelah itu akan mendukung semua itu, ” ujarnya, sebagaimana dilansir Rai al-Youm.

Menurut Nasrallah, hal yang paling berbahaya dalam normalisasi hubungan Saudi dengan Israel ialah “penyesatan budaya dan pemikiran yang akan terjadi bersamaan dengan berjalannya proses ini,” dan karena itu semua harus menolak dan menentang normalisasi hubungan dengan Israel dari segi apapun.

Nasrallah menyatakan prihatian karena, menurutnya, kondisi dunia Arab sekarang sangat buruk dan lebih buruk dari sebelumnya,

“Kondisi Arab di kawasan ini buruk sekali, lebih buruk dari sebelumnya, tidak ada umat, negara-negara dan Liga Arab yang hakiki, dan tidak ada pula masa depan bersama dan semisalnya… Israel sudah secarfa formal bukan lagi musuh bagi Arab, Palestina sudah menjadi sekedar persoalan mengatasi beban, dan inilah yang ditunjukkan oleh pertemuan-pertemuan puncak Arab, ” tegasnya.

Nasrallah menjelaskan bahwa Saudi semula menjalin hubungan secara diam-diam dengan Israel, tapi sekarang hubungan itu dilakukan secara terbuka. Pertempuan-pertemuan Pangeran Turki al-Faisal secara terbuka dengan orang-orang Israel, dan lalu kunjungan Anwar Eshki ke Israel tidaklah lepas dari persetujuan pemerintah Saudi.

“Di Saudi, jika seseorang berkicau melalui Twitter saja bisa dikenai hukuman cambuk seribu kali, lantas bagaimana lagi seandainya dia menyalahi kebijakan strategis?” soalnya.

Dia mengingatkan bahwa kunjungan tokoh Saudi ke Israel bukanlah permulaan koordinasi Riyadh – Tel Aviv, melainkan langkah awal pergeseran dari tertutup menjadi terbuka, dan apa yang dilakukan oleh al-Faisal dan Eshki adalah “aksi penjajakan”.

Nasrallah menegaskan bahwa normalisasi hubungan Saudi dengan Israel hanyalah untuk kepentingan Tel Aviv tanpa ada konsesi apapun bagi Palestina dan Arab secara keseluruhan dari segi keamanan, politik, hukum, dan masa depan.

Dia menyatakan bahwa dengan menjalin hubungan dengan Israel untuk kemudian menyesuai diri dengannya dan mengakui negara Zionis tersebut, Saudi sengaja tidak mau menampilkan dirinya di dunia Arab dan Islam sebagai negara Islam yang berpedomankan syariat dan al-Quran serta negara yang dipercaya untuk menjaga tanah suci.

Lebih lanjut Sekjen gerakan yang berbasis di Lebanon ini menegaskan bahwa Arab Saudi dalam agresinya ke Yaman selama sekitar satu setengah tahun telah gagal memaksakan kehendaknya terhadap Yaman, sedang mengenai Suriah, Menlu Saudi Adel al-Jubeir telah mengajukan tawaran yang menggelikan kepada Rusia karena dia seolah telah memposisikan dirinya sebagai pemegang mandat kekuasaan atas rakyat Suriah.

Nasrallah mengingatkan bahwa pengakuan terhadap status Israel tidak boleh dipandang dengan sebelah mata karena memang bukan perkara sepele dan “basa-basi” belaka, sehingga harus ditentang keras karena pengakuan itu hanya akan memnyokong Israel yang terus menindas bangsa Palestina, menistakan tempat-tempat suci dan mengancam kawasan.

Dia juga menegaskan bahwa fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para ulama Saudi sesuai selera penguasanya merupakan “tragedi di ranah fikih”.

Mengenai perkembangan situasi di Aleppo di mana para teroris dan pemberontak Suriah sudah terkepung oleh pasukan Suriah dan sekutunya, Nasrallah menyebutnya sebagai proses pembabatan rencana-rencana kotor beberapa rezim regional dan impian mereka untuk menjadi imperium. (Baca: Aleppo Terkepung Total, Presiden Suriah Minta Pemberontak Menyerah)

Lebih lanjut dia mengungkapkan solidaritasnya kepada rakyat Bahrain, terutama ulama senior negara ini, Syeikh Issa Qasim, yang sedang mendapat tekanan hebat dari rezim Bahrain yang bersekutu dengan Saudi. Menurutnya, rakyat terus melakukan aksi konsentrasi akbar di sekitar rumah Syeikh Issa Qasim sehingga rezim Bahrain sampai sekarang tak dapat menangkapnya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL