Manama, LiputanIslam.com –  Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayyid Hassan Nasrallah, kembali melontarkan ancaman terhadap rezim Zionis penjajah Palestina, Israel. Dia menyebut Amerika Serikat (AS) sebagai biang kerok terorisme, menyatakan bahwa Rusia bukan bagian dari kubu muqawamah (resistensi), dan memastikan perang di Suriah bukanlah perang melawan kelompok-kelompok bersenjata, melainkan melawan sejumlah negara dunia.

Dia menegaskan bahwa Hizbullah tak memiliki “garis merah” atau rambu apapun dalam membela Lebanon di depan Israel, dan karena itu Hizbullah siap menggempur reaktor nuklir Demona milik Israel jika dirasa perlu.

“Hizbullah siap menggempur reaktor Demona Israel, kami memiliki keberanian untuk ini, dan jika kami memandang perlu menyerang Demona dalam perang melawan musuh kami di masa mendatang maka kami akan melakukannya,” ungkap Nasrallah dalam wawancara dengan TV Iran, Senin (20/2/2017).

(Baca: Nasrallah Janji Jadikan Bom Nuklir Israel Senjata Makan Tuan)

Lebih lanjut dia menyebut AS sebagai gembong terorisme, dan Hizbullah tidak menilai AS dan Israel berada dalam posisi yang membuat keduanya saling tuding teroris.

Mengenai Rusia dia mengatakan bahwa Negeri Beruang Merah ini sampai sekarang masih memainkan peranan yang relevan di Suriah dan tidak mengubah sikapnya meskipun mendapat tekanan dari Barat, Arab dan Turki.

Namun demikian, lanjutnya,  Rusia bukan bagian dari poros muqawamah, sebagaimana Moskow sendiri tidak memposisikan Rusia dalam poros ini.

“Ada kecocokan antara Rusia dan poros muqawamah dalam sejumlah bidang dan persoalan, termasuk isu Suriah, tapi di tempat-tempat lain, termasuk Yaman, ada perselisihan pendapat.” terangnya.

Dia menambahkan, “Sikap Rusia tidak sesuai dengan sikap poros muqawamah mengenai agresi AS-Saudi terhadap Yaman…  Tentu, Rusia sebagai salah satu negara besar di dunia memiliki hubungan dan komunikasi yang luas, termasuk dengan Israel… Kami memerangi Israel bukan bersama Rusia. Kami memeranginya sendirian, tapi di Suriah ada titik temu, ada persimpangan kepentingan.”

Menurut sosok kharismatik ini, Suriah sekarang sudah melintasi tahap bahaya jatuhnya pemerintah Suriah, dan solusi politik sudah lebih tercanangkan dibanding masa-masa sebelumnya, meskipun segala sesuatunya masih memerlukan waktu lama dan bahkan perubahan sebagian pemikiran, mengingat ada pihak-pihak tertentu yang berharap dapat meraih berbagai konsesi di lapangan.

Dia juga memastikan bahwa perang di Suriah sebenarnya bukan melawan kelompok-kelompok bersenjata, melainkan melawan sejumlah negara dunia, terutama AS dan negara-negara sekutunya di Barat. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL