BeirutLiputanIslam.com –  Sekjen kelompok pejuang Hizbullah yang bermarkas di Lebanon, Sayyid Hassan Nasralah, menyerukan intifada baru, pembekalan bangsa Palestina dengan senjata,  dan penghentian hubungan negara-negara Arab dengan Israel.

Hal ini dia nyatakan dalam pidato televisi Kamis malam (7/12/2017) terkait dengan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Al-Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel.

“Saya menyerukan kepada semua orang untuk menggelar unjuk rasa akbar memrotes dan mengecam serangan AS dan keputusannya yang agresif dan zalim ini. Saya mengajak semua orang, laki dan perempuan, besar dan kecil, di Beirut dan kawasan sekitarnya, tapi (seruan ini adalah untuk) orang yang ingin datang dari manapun di Lebanon, demikian pula saudara kami di kamp-kamp pengungsi Palestina, untuk mengikuti unjuk rasa dengan tema membela Al-Quds dan  tempat-tempat suci Islam dan Kristen,”serunya.

Nasrallah menyebut keputusan Trump “Perjanjian Balfour Kedua”, yaitu perjanjian yang diteken pada tanggal 2 November 1917 oleh Menlu Inggris saat itu, Arthur Balfour, untuk mendukung pendirian negara Yahudi Zionis di tanah Palestina.

Sekjen Hizbullah menyatakan bahwa keputusan Trump merupakan “penghinaan terhadap ratusan juta umat Islam dan Krsisten.”

Tak lama setelah Nasrallah memulai pidato ini, media Israel melaporkan pengakuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa dia telah mengapresiasi Trump dengan menyebutnya “telah berbuat seperti yang dilakukan oleh Balfour”.

Nasrallah kemudian mengingatkan negara-negara Arab supaya tidak meremehkan keputusan Trump, karena keputusan ini merupakan perlindungan mutlak AS bagi dominasi Israel atas Al-Quds, dan pada tahap selanjutnya akan terjadi penempatan para imigran Zionis secara besar-besaran, cepat, dan tanpa batas lagi di Al-Quds dan Tepi Barat.

“Namun, dalam beberapa hari ke depan kita akan mendengar suara-suara yang meremehkan bahaya keputusan Trump terkait dengan Al-Quds,” keluhnya.

Dia menambahkan bahwa bahaya terbesarnya terkait dengan status Masjid Al-Aqsa karena menurut keputusan Trump tempat suci ketiga umat Islam ini adalah milik Israel.

Nasrallah menilai Al-Quds merupakan jantung dan poros isu Palestina, sementara keputusan Trump merupakan penuntasan kasus Palestina bagi AS untuk “orang-orang yang percaya kepada perundingan damai.”

Dia mengingatkan bahwa keputusan Trump ini jangan sampai didiamkan karena akan membuat AS semakin berani berbuat apa saja di dunia Arab.

Menurutnya, khalayak dunia, terutama semua negara Arab dan Israel, menolak keputusan Trump, tapi “Trump tidak menghormati siapapun dan tidak menghargai kehendak internasional, dan apa yang terjadi kemarin (Rabu lalu) merupakan penghinaan terhadap dunia demi Israel.”

“Pemerintah AS tidak menghormati keputusan dan perjanjian internasional, dunia telah diatur oleh rencana, permainan, dan ambisi penghuni Gedung Putih,” lanjutnya.

Nasrallah menyoal kedudukan negara-negara Arab sekutu AS di mata Washington dengan mengatakan, “Apa nilai negara-negara Arab dan Islam sekutu AS? (Mereka) bukan apa-apa (di mata AS).”

Tokoh Lebanon berserban hitam ini meminta supaya upaya normalisasi, proses komunikasi terselubung maupun terbuka, dan hubungan diplomatik dengan Israel segera dihentikan.

“Langkah apapun yang dilakukan untuk normalisasi hubungan dengan Israel merupakan pengkhianatan terbesar bagi Al-Quds,” tegasnya.

Nasrallah meminta supaya negara-negara Arab memberitahu Trump penolakan mereka kembali ke perundingan sebelum dia menarik keputusannya mengakui Al-Quds sebagai ibu kota Israel.

Dia juga menegaskan keharusan pengambilan keputusan yang mengikat negara-negara Arab dan Israel untuk menjadikan Al-Quds sebagai ibu kota Palestina untuk selamanya dan tak bisa dinegosiasikan lagi.

Lebih lanjut dia menyerukan kebangkitan atau intifada baru Palestina sembali menyerukan keharusan negara-negara Arab dan Islam membekali bangsa Palestina dengan senjata, dana, dan politik.

Di bagian akhir dia mengatakan, “Kita adalah umat yang memiliki kemampuan untuk mengubah ancaman menjadi kesempatan, dan membalik keadaan menjadi kemenangan bagi  umat kita.” (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL