Beirut, LiputanIslam.com –  Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah menilai Kerajaan Arab Saudi sedang menghadapi sebentuk boikot dari khalayak internasional akibat kasus hilangnya jurnalis ternama Saudi Jamal Khashoggi, dan kedok perang terhadap Yaman mulai runtuh akibat kasus ini.

Dalam pernyataan pada momen peringatan 25 tahun Lembaga Tarbiyah dan Pendidikan Islam di Lebanon, Jumat (19/10/2018), Nasrallah menyampaikan komentarnya atas kasus Khashoggi yang menghebohkan dunia.  Dia menilai kasus ini sebagai “peristiwa besar” yang bahkan menyulitkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan terlebih para penguasa di Saudi.

Nasrallah memandang sekarang “ada krisis internasional dan sebentuk boikot” terhadap Saudi, dan “kedok internasional dan global untuk perang kalian (Saudi) terhadap Yaman mulai runtuh menyusul kasus Khashoggi.”

Karena itu dia mengimbau Saudi menghentikan invasi militernya terhadap Yaman.

“Sekarang adalah momentum untuk mengambil keputusan yang berani demi menghentikan perang terhadap Yaman…. Kalian hendaknya memperkenankan orang-orang Yaman beranjak menuju solusi politik,” seru Nasrallah.

Dia menekankan bahwa “sangat menggelikan” jika Hizbullah dituduh terlibat dalam kasus Khashoggi.  Menurutnya, Poros Resistensi masih berada dalam posisi mengamati kasus ini meskipun berkesempatan memanfaatkan sebaik mungkin peristiwa ini di tengah konflik pemikiran dan politik.

“Para penguasa Saudi dan AS berada dalam posisi sulit akibat kasus hilangnya Khashoggi,” imbuhnya.

Lebih lanjut Sekjen Hizbullah mengingatkan perkembangan situasi di Jalur Gaza yang kini diwarnai adegan saling ancam antara Israel dan para pejuang Palestina. Dia menilai perkembangan ini “sangat krusial bagi seluruh kawasan” dan “tak ada pilihan bagi orang-orang Palestina di Gaza kecuali keteguhan, konfrontasi, dan perlawanan”. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*