nasrallah bint jbeilBeirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Lebanon Hassan Nasrallah menegaskan bahwa perang Hizbullah- Israel selama 33 hari pada Juli-Agustus 2006 merupakan peristiwa strategis dan monumental di mana Israel menyerang Lebanon atas inisiatif Amerika Serikat (AS) dengan tujuan “menggilas muqamawah (perlawanan terhadap Israel) dan menyingkirkan Hizbullah dari perimbangan domestik dan regional”.

Hal itu dia katakan dalam sambutannya pada peringatan ke-10 kemenangan Hizbullah atas Israel tahun 2006, di kawasan Bint Jbeil, Lebanon selatan, sebagaimana dilansir Rai al-Youm, Sabtu (13/8/2016).

Nasrallah memastikan bahwa dalam perang itu mental, ambisi dan bahkan eksistensi Rezim Zionis Israel sudah jatuh, dan sejak itu Tel Aviv mengakui betapa Israel akan menghadapi reaksi dan balasan setimpal jika bertindak ofensif terhadap Lebanon.

“Kawan maupun lawan Israel mulai mempertanyakan apakah rezim ini akan langgeng atau tidak,” ungkap Nasrallah.

Dia menegaskan bahwa kemenangan Hizbullah dalam perang 2006 telah menjatuhkan tingkat ekspektasi Israel . Israel semula berharap dapat menumpas muqamawah Hizbullah, mendepak gerakan ini dari perimbangan internal Lebanon maupun kawasan regional, dan menjauhkan barisan pejuang Hizbullah dari perbatasan, namun semua harapan ini menguap.

“Ini karena muqawamah adalah rakyat dan penduduk negeri ini sendiri,” katanya.

Dia menambahkan bahwa prakarsa Timteng baru yang diobsesikan oleh AS juga berantakan akibat kejayaan Hizbullah dalam perang melawan Israel. Selain itu, wibawa kekuatan militer Israel juga terguncang, dan bahkan publiknyapun juga sudah tak yakin lagi kepada mitos kedigdayaan Israel sehingga rezim ilegal ini kemudian mengalami krisis kepemimpinan.

Lebih jauh, Sekjen Hizbullah menyinggung kelompok-kelompok ekstrimis takfiri, dan mengajak mereka supaya meletakkan senjata dan berhenti menebar pertumpahan darah di tengah umat Islam sendiri.

Nasrallah mengatakan, “Jika masih ada sisa Islam pada kelompok-kelompok takfiri maka saya menyerukan kepada mereka supaya menghentikan perang, yang tidak membantu siapapun kecuali AS.”

Dia menjelaskan bahwa setelah habis AS, Arab Saudi dan negara-negara regional lainnya mengerahkan kelompok-kelompok teroris maka “tibalah masa panen”, dan “sesudah ISIS maka akan tiba janji masa untuk memanen kelompok-kelompok takfiri lain yang dibuat oleh AS dan para sekutunya.”

“Tak ada pilihan di depan kami kecuali tetap berada di lapangan di Aleppo dan di setiap tempat yang mewajibkan keberadaan kami,” tegasnya.

Dia menambahkan, “Pernyatan orang-orang AS sendiri mengenai pendirian dan pengelolaan ISIS patut diikuti dengan cermat… Pemerintah AS memang telah membuat kelompok-kelompok takfiri berskala luas, dari al-Qaedah turun ke ISIS lalu Jabhah al-Nusra, sedangkan Hizbullah adalah ujung tombak dalam kubu muqawamah, dan inilah yang lantas dipandang perlu diperangi melalui instrumen-instrumen terorisme.”

Dia memastikan bahwa pemerintahan Presiden AS Barack Obama dan mantan Menlu AS Hillary Clinton memang pendiri ISIS dan kelompok-kelompok semisalnya, setelah prakarsa Timteng baru kandas dan kubu muqawamah kian berkibar. (Baca: Donald Trump Sebut Obama dan Hillary Clinton “Pendiri ISIS”)

Menurut Nasrallah, apa yang diproyeksikan AS sekarang adalah perang proxy, karena Israel dinilai sudah tidak efektif menghadapi kubu muqawamah, dan dalam proses ini AS mendanai, mempersenjatai dan melatih kelompok-kelompok teroris justru dengan menggunakan dana sejumlah negara kaya Arab. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL