Beirut, LiputanIslam.com –  Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah dalam pidato peringatan tahun pertama pembasmian teroris di Lebanon, Ahad (26/8/2018), menyoal bagaimana seandainya kelompok teroris ISIS dan Jabhat al-Nusra menang perang di Suriah dan Irak, dan bagaimana pula nasib negara-negara Arab Teluk Persia sendiri yang mendukung mereka namun sekarang justru dikafirkan oleh mereka sendiri.

Dia memuji penduduk kawasan Beka di Lebanon karena telah bersegera mengambil keputusan untuk melawan kawanan teroris sehingga kerjasama tentara, masyarakat, dan para pejuang muqawamah (resistensi) berhasil menumpas kawanan itu.

Menurutnya, semangat juang para pemuda Lebanon sedemikian tinggi sehingga tak perlu diadakan mobilisasi, berbeda dengan militer yang tak memiliki unsur kemanusiaan dan tak mampu menyerap para pemuda tanpa mobilisasi sehingga kemudian banyak anak pemuda Israel justru mengalami tekanan jiwa.

“Tahun lalu sebanyak 44,000 tentara Israel merujuk ke psikater,” katanya.

Dia menilai Israel memang telah banyak mengembangkan kemampuan militer, namun “semua itu tidak akan dapat membuatnya keluar dari unsur kekalahan.”

Mengenai Amerika Serikat (AS), Nasrallah mengatakan bahwa negara arogan ini berusaha keras mencegah kekalahan ISIS, termasuk di Lebanon dengan cara “mengancam akan menghentikan bantuannya kepada tentara Lebanon jika ikut serta dalam operasi penumpasan teroris”, sementara di Suriah helikopter AS sering dioperasikan untuk menyelamatkan para teroris ISIS yang kalah.

“Orang yang mengalahkan ISIS di Suriah adalah orang yang memeranginya, bukan AS,” tegasnya.

Nasrallah menyebutkan bahwa pusat operasi militer AS yang ada di Yordania telah memimpin dan mengendalikan kelompok-kelompok teroris dan pemberontak di Suriah selatan, tapi akhirnya terpaksa menelantarkan mereka sehingga menjadi pelajaran bagi siapapun untuk tidak menggantung nasib kepada AS.

“Di dunia ini tak sekutu sejati bagi AS. AS memperlakukan para sekutunya hanya sebagai alat. AS bahkan tak memberikan kesempatan bagi mereka untuk kabur ketika mereka sudah selesai diperalat,” tuturnya.

Sekjen Hizbullah kemudian mengingatkan bahwa semua pihak harus tetap waspada selagi AS masih bercokol di kawasan, dan “tak ada yang tahu kapan AS akan beranjak pergi.”

Dia mengambil contoh adanya indikasi bahwa AS bermaksud membuat sandiwara baru di Idlib, Suriah, berkenaan dengan bom kimia untuk kemudian melancarkan agresi ke Suriah.

Lebih jauh Nasrallah mengecam kebungkaman khalayak internasional terhadap kejahatan perang aliansi Saudi-Uni Emirat Arab di Yaman. Dia juga mengatakan tidak ada yang tahu sampai kapan Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman akan terus mengumbar kejahatan dan tragedi (mm/raialyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*