nasrallah wawancaraBeirut, LiputanIslam.com – Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah mengaku pihaknya sudah mengantongi daftar seluruh reaktor nuklir dan arsenal rudal berhulu ledak nuklir serta tempat-tempat sensitif lain milik Israel. Dia juga memastikan Israel tahu persis beratnya resiko yang akan ditanggung rezim Zionis ini jika berani menyerang Lebanon, dan Israel tidak akan menyerang kecuali dengan persetujuan Amerika Serikat (AS).

Hal ini dia nyatakan dalam wawancara siaran langsung dengan channel al-Mayadeen, sebagaimana dilansir al-Alam, Selasa (22/3).

“Saya kira kecil kemungkinan Israel akan menyerang Lebanon, namun tetap ada kemungkinan Israel melancarkan aksi gila,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa pasukan muqawamah Hizbullah telah mencetak banyak prestasi militer dan dapat meyakinkan Tel Aviv bahwa resiko perang dengan Hizbullah dan Lebanon akan sangat fatal bagi Israel. Israel tahu persis bahwa Hizbullah memiliki rudal-rudal aktif yang dapat seluruh penjuru Israel alias Palestina pendudukan.

“Perang (Israel) terhadap Lebanon akan kami ladeni tanpa atap, batasan dan garis merah lagi,” ancamnya.

Menyinggung apa yang pernah dia singgung sebelumnya mengenai fasilitas amonia Israel, dia mengatakan, “Ancaman kami untuk menyerang gudang-gudang amonia membuat Israel gemetaran, ketika kami dalam posisi diagresi dan diancam maka sebagai reaksi terhadapnya kami menegaskan bahwa kami bukan orang-orang lemah… Kami berhak menggempur sasaran manapun di Palestina pendudukan, termasuk reaktor nuklir, demi mencegah musuh.”

Dia mengingatkan bahwa Hizbullah sudah mendaftar semua titik sasaran di Israel, termasuk fasilitas nuklir dan pusat-pusat riset biologi.

“Kami tidak akan memberikan jaminan keamanan bagi musuh, tapi kami ingatkan mereka agar jangan coba-coba menyerang…. Para pejuang, tentara dan rakyat Lebanon berhak memiliki senjata apapun demi membela diri, dan ada perang kesiapan dan keamanan yang terus berlangsung melawan musuh, dan kami berhak menghadapinya,” ungkapnya.

Menyinggung keputusan Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) memasukkan Hizbullah dalam daftar organisasi teroris, dia menilainya sebagai keputusan Saudi yang kemudian disetujui oleh negara-negara anggota lainnya.

“Saudi memiliki kekuatan finansial, media, fatwa, takfirisme keagamaan, dan kaum takfiri yang dengan semua ini ia dapat mengancam siapapun yang menentangnya. Sebagian negara anggota GCC tidak menganggap Hizbullah sebagai teroris, tapi mereka harus memuaskan Saudi.”

Dia kemudian mengingatkan bahwa pihak yang menganggap Hizbullah sebagai organisasi teroris sebenarnya bukan negara Saudi, melainkan klan al-Saud.

Karena, menurutnya, dalam rezim Saudi terdapat “akumulasi sikap” menyangkut Hizbullah. Hanya saja, dia memastikan bahwa di Saudi memang ada proyek untuk menghentikan muqawamah (perlawanan terhadap Israel). (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL