nasrallah 2Beirut, LiputanIslam.com –   Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah mengatakan kunci penyelesaian krisis Suriah ada di medan pertempuran dan tidak ada prospek bagi solusi politik untuk krisis ini.

“Kami di Suriah membela eksistensi kami semua, dan semua orang mengetahui hal ini. Kesuksesan yang kami raih sangat besar. Kami telah menghalau dan menjauhkan bahaya, tapi belum selesai, terutama karena kelompok-kelompok takfiri masih mendapatkan bantuan dari Saudi, Qatar, Turki, Amerika Serikat dan Perancis,” ujar Nasrallah, seperti dilansir al-Akhbar, Selasa (27/9/2016).

Dia menambahkan, “Ancaman militer kelompok-kelompok takfiri sudah terhalau jauh dari Lebanon. Para takfiri bersenjata sekarang terkepung di barisan timur… Tak ada prospek bagi solusi politik, dan yang tersisa adalah penyelesaian di lapangan. Situasi sekarang semakin rumit, terutama menyusul ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia dan berlanjutnya krisis kepercayaan antara kedunya, dan  di Suriah tak ada kelompok oposisi bersenjata moderat. ”

Mengenai Arab Saudi, dia mengatakan rezim al-Saud bersama AS dan Inggris mati-matian berusaha menjadikan konflik Suriah sebagai konflik bernuansa mazhab.

“Tapi ini adalah konflik bernuansa politis, dan tetap akan bernuasa politis,” tegas Nasrallah.

Tokoh berserban hitam dari Lebanon selatan ini mengapresiasi Muktamar Ahlussunnah Waljamaah di Grozny, ibu kota Cechnya, 25 Agustus lalu karena pertemuan yang dihadiri oleh ratusan ulama Ahlussunnah dari berbagai penjuru dunia ini memandang Salafi/Wahabi sebagai pihak yang bertanggungjawab di balik aksi pencemaran citra Islam.  (Baca: Blak-Blakan Muktamar Aswaja Sedunia Soal Wahabisme)

“Ada kecermatan terhadap apa yang terjadi… bahwa pertempuran ini bukanlah melawan Ahlussunnah, melainkan terhadap Wahabi yang telah membukakan pintu-pintu dunia di depannya melalui kesefahaman dengan AS dan Inggris untuk membangun univeristas-universitas, sekolah-sekolah, dan masjid-masjid… Wahabi tak kalah keras kepalanya daripada Israel,  apalagi Saudi ingin menghabisi pihak lain dan menghapus segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam dan sejarahnya.  Rencana demikian berjalan sejak 2011, dan ini bukanlah isu Syiah dan Sunnah.  Peranan intelijen jelas dalam hal ini,” terangnya.

Dia melanjutkan, “Kita harus mengubah ancaman ini sebagai kesempatan untuk mengepung dan menghantam Wahabi.”

Sayyid Nasrallah kemudian menyebutkan adanya Syiah gadungan yang dibeking Inggris.

“Syiah Inggris lebih berbahaya daripada Wahabi dan Zionis.  Mereka muncul di kanal-kanal satelit dan berbicara dengan bahasa mazhab. Mereka adalah para agen intelijen yang bertujuan menghancurkan mazhab.  Semua yang menyokong mereka berbuat demikian adalah antek bodoh, dan semua orang yang melindungi mereka dan mendiamkan kesesatan mereka adalah konspirator,” tegasnya.

Mengenai Israel dia memastikan rezim Zionis ini sudah tak berkutik akibat kekalahannya dalam perang dengan Hizbullah pada tahun 2006. Namun dia juga mengingatkan bahwa Israel masih berusaha mencari-cari kesempatan untuk memerangi Hizbullah dan Lebanon, dan sejauh ini apa yang dapat dilakukan Zionis ialah menyokong dan mendanai kaum takfiri.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL