السيد نصرالله: شهادة المجاهد النمر ارث الأنباء والاوصياءBeirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Lebanon Hassan Nasrallah mengutuk keras hukuman mati rezim Arab Saudi terhadap ulama reformis Syiah Saudi, Syeikh Nimr Bagir al-Nimr, dan menilainya sebagai pesan bertinta darah yang membunuh dialog dan moderasi.

“Di tanah Semenanjung Arab yang menjadi tempat berdirinya negara zalim dan batil bernama Kerajaan Arab Saudi, di negeri Haramaian serta Ahlulbait dan para sahabat Nabi, negeri para mujahidin terdahulu, negeri Islam telah diberinama dengan nama suatu klan, yaitu klan al-Saud yang telah mewajibkan dirinya melakukan pembantaian, pembunuhan dan teror terhadap rakyat Jazirah Arab. Semua ini tercatat dalam buku-buku sejarah sebagai bagian dari proyek imperialis di negeri kita, dan di saat yang sama imperialis datang untuk mendirikan entitas lain bernama Israel di Palestina pendudukan,” paparnya, Minggu malam (3/1/2016), sebagaimana dilansir Alalam.

Nasrallah mengingatkan bahwa di Kerajaan Saudi tak ada ruang bagi seorang agamawan atau reformis untuk menyampaikan kritikan dan protes.

Dia memastikan bahwa hukuman mati terhadap Syeikh al-Nimr bukanlah peristiwa yang dapat dilewati begitu saja.

“Apakah pengadilan Saudi dapat membuktikan bahwa Syeikh al-Nimr telah berjuang dengan mengangkat senjata? Semua yang ditempuh Syeikh al-Nimr adalah jalur damai sebagaimana yang ditempuh oleh seluruh ulama di kawasan timur Saudi dan Bahrain. Syeikh Nimr al-Nimir adalah sosok pria yang sangat gagah berani, dan tak mengangkat senjata, melainkan sebatas menuntut hak-hak Jazirah Arab yang secara palsu telah dinamai dengan Kerajaan Arab Saudi,” tegasnya.

Dosa Syeikh al-Nimr, lanjutnya, hanyalah menuntut supaya rakyat memperoleh hak dan kebebasan alamiah yang juga dituntut oleh manusia di manapun di dunia, dan karena itu darah Syeikh al-Nimr pasti akan menuntut balas dinasti al-Saud di dunia dan di akhirat.

Nasrallah menyoal mengapa dinasti korup dan lalim itu bersikeras menjatuhkan hukuman mati, padahal sudah banyak surat yang dilayangkan kepada mereka supaya membatalkan hukuman itu atau memberikan amnesti.

“Saudi sebenarnya bisa saja mengurung Syeikh al-Nimir dalam penjara, tapi mengapa sedemikian bersikukuh untuk mengeksekusinya?,” soalnya.

Sekjen Hizbullah memastikan bahwa eksekusi itu merupakan “surat bertinta darah’ yang menegaskan bahwa rezim Saudi sama sekali tak peduli kepada opini publik Arab, Islam dan internasional maupun kepada perasaan para sahabatnya sendiri atau kepada perasaan ratusan juta umat Islam yang pasti akan terlukai, dan rezim ini bahkan juga menegaskan bahwa siapapun akan tumpah darahnya jika menentang dinasti al-Saud.

“Mereka mengatakan, ‘Kami adalah rezim yang tak dapat menolerir kritikan apapun. Jadi silakan hidup di kerajaan kami sebagai domba atau terbunuh seperti domba.’ Dan dengan pembunuhan dan eksekusi ini mereka sengaja berkubang dalam fitnah dan masuk ke arena yang berbahaya,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa surat bertinta darah itu berisikan pesan kepada orang-orang yang berakal sehat , bersabar dan mengedepankan dialog bahwa dialog dan moderasi sudah tidak ada. Yang ada hanyalah eskalasi pembunuhan dan perang yang menghancurkan, dan apa yang dilakukan Saudi sekarang semakin jauh menyingkap kedoknya sebagai “takfiri, teroris dan penjahat.”

Nasrallah menegaskan bahwa dinasti al-Saudi berobsesi mengobarkan fitnah antara Sunni dan Syiah, dan ini sudah sekian tahun mereka kobarkan di mana-mana.

“Dimanapun ada masalah antara Sunni dan Syiah maka telusurilah di sana jejak Saudi dan hartanya… Sekarang sudah tiba saatnya untuk mengatakan kepada seluruh khalayak dunia dengan penuh keberanian dan tanpa perhitungan lagi bahwa fondasi, sumber dan titik tolak faham takfiri yang telah menghancurkan, membunuh, membantai dan mengancam bangsa-bangsa dunia, semuanya berasal dari dinasti dan sekolah di Saudi ini,” pungkasnya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL