Beirut, LiputanIslam.com –  Sekjen Hizbullah Lebanon Sayyid Hassan Nasrallah membantah keras laporan sebagian media Arab bahwa Hizbullah dan Iran menolak gencatan senjata yang diputuskan pada pertemuan di Astana, Kazakhstan, dan mengupayakan perubahan demografis di Suriah.

“Iran dan Hizbullah mendukung penuh gencatan senjata di Suriah, baik dijalin di Astana maupun di tempat lain. Kami mendukung segala tindakan atau manajemen penghentian pertumpahan darah, dan mendukung setiap rekonsialisi di Suriah,” tuturnya dalam acara peringatan tujuh hari wafatnya anggota Dewan Pusat Hizbullah Syekh Hussein Obeid, Minggu (12/2/2017).

Menurutnya, negara-negara pendukung terorisme telah menuding Hizbullah berusaha melakukan perubahan demografis di Suriah.

“Padahal tak ada perubahan demografis di Suriah. Faktanya ialah bahwa sebagian kawanan bersenjata bersikukuh meninggalkan kota lalu pemerintah Suriahpun memfasilitasi perpindahan ini dan membawa mereka dengan aman ke tempat perlindungan mereka. Perpindahan ini tidak bisa disebut pengubahan demografi yang berarti penempatan penduduk di lokasi yang bukan tempat mereka. Semua tuduhan ini bertujuan menebar agitasi bermotif mazhab dan sektarian,” jelasnya.

Dia memastikan pihaknya mendukung rekonsiliasi di manapun di wilayah Suriah, dan berperan aktif pada sebagian di antaranya.

“Kami sangat berkeingingan menyelesaikan beberapa krisis kemanusiaan, terutama tragedi al-Fouah dan Kafarya, dan beranggapan bahwa opsi yang tepat adalah kerjasama dengan penuh keyakinan untuk mengembalikan para pengungsi ke kota, desa, dan rumah masing-masing,” katanya.

Dia menilai keberhasilan pasukan pemerintah Suriah dan sekutunya membebaskan kota Aleppo sebagai prestasi besar dalam mengupayakan gencatan senjata dan membukakan pintu bagi perundingan Jenewa.

“Suriah telah melewati 99 persen bahaya penggulingan pemerintahan, dan proses baru sekarang adalah proses di mana kelompok-kelompok takfiri berputus asa untuk dapat menguasai Suriah,” lanjutnya.

Mengenai Turki, dia menilai Ankara semula memang menyokong  dan mempersenjatai ISIS serta membukakan perbatasan untuk kelompok teroris ini dengan persyaratan mengenai minyak, tapi Ankara kemudian terlihat menyesali hubungan dan dukungannya kepada ISIS sehingga sekarang Turki justru ikut memerangi ISIS. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL