Beirut, LiputanIslam.com –  Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah menegaskan bahwa agresi Israel ke Suriah bukan karena ada pengiriman senjata Iran kepada Hizbullah, melainkan karena kekandasan agenda makar Amerika Serikat (AS), Israel, dan Arab Saudi, sehingga Poros Resistensi harus mempelajari proses penyelesaiannya.

“Ini terkait dengan kegagalan agenda AS, Saudi, dan Israel…. Israel berusaha mencegah Suriah memiliki kekuatan rudal yang dapat menciptakan keseimbangan… Agresi Israel berulangkali ini harus dipelajari dan diadakan penyelesaiannya… Agresi Israel ke Suriah tak dapat ditolerir lagi, dan harus dibatasi,” tegas Nasrallah dalam pidatonya di Beirut, ibu kota Lebanon, Rabu (19/9/2018).

Sekjen kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon ini menyambut baik kesepakatan Rusia dengan Turki mengenai Idlib, dan memastikan Hizbullah akan tetap berada di Suriah.

“Kami menyambut baik kesepakatan Idlib sebagai satu langkah menuju solusi politik di Suriah, tapi ia bergantung pada implementasinya secara rinci,” ujarnya.

Dia memastikan Hizbullah akan tetap ada di Suriah “sampai ada pemberitahuan selanjutnya” dan “selagi pemimpin Suriah membutuhkannya.”

Mengenai kelompok teroris ISIS dia mengatakan bahwa tahun ini akan menjadi tahun penghabisan ISIS di kawasan.

Menurutnya, sejauh ini ISIS masih dapat bertahan di sejumlah kawasan di timur laut Suriah tak lain karena perlindungan AS, dan kelompok teroris berfaham Salafi/Wahhabi itu sekarang dialihkan ke negara-negara lain semisal Afghanistan, Pakistan, Mesir dan Yaman.

Mengenai AS dia mengatakan, “Kami memandang pemerintah AS sebagai musuh, sementara sebagian negara Arab memandangnya sebagai sahabat dan sekutu.”

Nasrallah menyoal, “Apakah kalian dapat membuktikan kejujuran AS? Apakah menguatkan Israel akan menguntungkan bangsa-bangsa Arab? Apakah Trump mengakui al-Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel adalah kepentingan bangsa Palestina?”

Dia menilai penguasa sesungguhnya di sebagian negara Arab dan Islam adalah duta besar AS, sementara bangsa Irak dapat menolak dikte AS meskipun mendapat intimidasi.

Dia menyoal, “Siapakah di sebagian negara Arab dan Islam berani mengecam campurtangan AS dalam urusan internal?”

Nasrallah menutup pidatonya dengan menegaskan bahwa Hizbullah berada di barisan depan dalam mencetak kemenangan di Lebanon dan kawasan, dan bahwa para pemuda Hizbullah berpartisipasi dalam pencegahan tragedi besar yang nyaris menimpa Lebanon dan kawasan.(mm/raialyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*