Moskow, LiputanIslam.com –  Terkait dengan peristiwa ledakan bom di stasiun kota St Petersburg, Rusia, yang menewaskan 11 orang dan melukai puluhan lainnya, Menlu Rusia Sergey Lavrov, membantah klaim sebagian media bahwa peristiwa ini terkait dengan situasi perang di Suriah.

Dalam jumpa bersama sejawatnya dari  Kirgistan Abdyldaev, Lavrov mengatakan, “Klaim sebagian media bahwa serangan teror di St Petersburg merupakan balas dendam atas tindakan Moskow di Suriah adalah klaim hina dan tak kenal rasa malu. Saya tak dapat melukiskan lebih dari ini berkenaan dengan klaim tersebut.”

Dia menyayangkan opini demikian diamini oleh sebagian pejabat negara, termasuk para petinggi Pentagon, dengan mengatakan bahwa Rusia harus menyiapkan peti mayat untuk tentaranya karena ikut berperang di Suriah demi membela Presiden Suriah Bashar al-Assad.

“Saya kira pernyataan demikian tak patut dinyatakan para politisi. Saya berharap dalam situasi sekarang di mana terorisme mengancam semua negara tanpa kecuali jangan sampai standar ganda demikian diterapkan,” ungkapnya.

Dia meminta media lebih bertanggungjawab dalam membuat laporan dan membangun opini.

Sementara itu, Komite Investigasi Rusia menyatakan  pelaku serangan bom di stasiun metro Tekhnologichesky Institut,  St. Petersburg, itu adalah pemuda warga negara Kyrgyzstan.

Dijelaskan bahwa pelakunya adalah Akbarzhon Dzhalilov, 22 tahun, dan identitasnya terungkap melalui pemeriksaan CCTV. Dalam rekaman dia terlihat meninggalkan tas berisi bahan peledak di stasiun kereta bawah tanah Ploschad Vosstaniya, namun berhasil ditemukan sebelum meledak. (mm/segodnya/sputnik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL