Baghdad, LiputanIslam.com – Pemimpin kelompok Sadr yang memimpin perolehan suara sementara dalam pemilu parlemen Irak, Sayyid Moqtada Sadr, mengecam “campurtangan utusan Presiden Amerika Serikat (AS) dalam urusan Irak,” dan menyebutnya “buruk.”

Hal itu dia kemukakan saat ditanya oleh salah seorang simpatisannya, Rabu (16/5/2018), mengenai kabar “keberadaan utusan Presiden AS di Irak untuk menentukan proses politik di tahap mendatang.”

“Tidaklah aneh keberadaannya di Irak, tapi yang buruk ialah campurtangannya dalam urusan Irak, dan jika ini berkelanjutan maka keberadaan menjadi buruk di Irak,” jawabnya.

Sebelumnya utusan Presiden AS untuk pasukan koalisi anti teror Brett H. McGurk dan Dubes AS untuk Irak  Douglas Coleman telah mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh Irak, termasuk pemimpin kelompok al-Hikmah, Sayyid Ammar al-Hakim, dan ketua parlemen Irak, Salim Al-Jibouri.

Selain itu, menurut harian al-Hayat terbitan London, orang-orang AS juga mengadakan pembicaraan di Arbil untuk “mendekatkan antarkekuatan Kurdi yang terpecah” dan hal ini dilakukan dalam rangka memuluskan upaya AS menentukan garis besar pembentukan pemerintah Irak di masa mendatang.

Para pengamat mengatakan bahwa kemenangan kelompok Sadr dalam pemilu berkemungkinan memaksa AS untuk mempertimbangkan kembali perhitungannya terhadap Irak, dan hal yang sama juga terjadi pada Iran, karena kelompok Sadr kerap bersikap kritis terhadap kebijakan dua negara yang bersaing di Irak ini. (mm/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL