hezbollah lebanon 2Teheran, LiputanIslam.com – Gerakan Hizbullah memastikan pihaknya tetap mewaspai gerak-gerik Rezim Zionis Israel meskipun milisi yang berbasis di Lebanon ini terlibat perang di Suriah. Hal ini dinyatakan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syeikh Naim Qassem, dalam wawancara dengan sebuah channel TV Iran, Kamis (11/9).

“Keterlibatan Hizbullah dalam perang di Suriah sama sekali tidak membuatnya lalai terhadap Rezim Zionis. Pasukan Hizbyllah yang berperang di Suriah berada di luar strategi pertahanan kami dalam menghadapi Rezim Zionis sehingga bentuk pendekatannyapun berbeda,” ungkapnya, sebagaimana dikutip Alalam.

Dia menegaskan Hizbullah siap menghadapi serangan Israel kapanpun Tel Aviv menghendakinya. Tapi menurutnya, Tel Aviv tahu persis ketangguhan Hizbullah sehingga tidak akan gegabah memulai perang terhadap Lebanon.

Mengenai alasan keterlibatan milisi anti Israel ini di Suriah, Naim Qassem yang berkunjung ke Iran untuk menghadiri pertemuan Forum Ulama Islam untuk Mendukung Resistensi Palestina di Teheran mengatakan, “Campurtangan Hizbullah di Suraih adalah demi mengantisipasi bahaya besar.”

Dia juga mengapresiasi keseriusan Iran dalam menyokong kubu perlawanan (muqawamah) Palestina.

“Sebagai pendukung utama muqawamah, Iran telah menjadi negara teladan dan terdepan. Sedangkan Suriah juga telah memberikan dukungan besar berupa kepada Hizbullah dan Gaza di bidang persenjataan militer dan pertahanan… Semua ini terjadi secara rahasia. Sayangnya, negara lain tidak ada yang memberikan dukungan apapun kepada Palestina,” paparnya.

Sementara itu, dalam wawancara di hari yang sama dengan koran Lebanon al-Safir dia menilai upaya penumpasan ISIS yang terlihat sedang digalang oleh Amerika Serikat (AS) bukanlah gerakan yang serius.

“Gerakan internasional yang digalang AS tidaklah serius dalam pemberantasan bahaya takfiri,” katanya.

Dia menjelaskan, “Pernyataan Barack Obama jelas. Materi yang dia bicarakan ialah pembatasan bahaya dan penonaktifan sebagian target, namun dengan tetap mempertahankan peran ISIS sebagai momok bagi negara-negara tertentu di kawasan ini dan membiarkan bahaya ini sebagai bahan untuk menebar ketakutan di berbagai tempat pada momen-momen yang tepat untuk mendapat berbagai konsesi politik, khususnya di Irak dan Suriah.”

Menurut Naim Qassem, AS menerapkan standar ganda dalam isu perang melawan terorisme.

“Orang-orang AS menerima keberadaan ISIS di wilayah kita dan berusaha mencegah jangkauan ISIS ke negara mereka, namun mereka sama sekali tidak berniat untuk membasminya secara total… Teriakan internasional dan regional tentang ISIS berkaitan erat dengan hilangnya kendali mereka atas ISIS serta terjadi akibat kekuatiran mereka terhadap resiko-resiko yang tidak mereka pertimbangkan sebelumnya.” (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL