Kairo, LiputanIslam.com –  Media Israel melaporkan adanya upaya Mesir dan Arab Saudi menekan Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, agar berhenti menggerakkan “Al-Awdah March” atau “Great March of Return”, yaitu unjuk rasa akbar yang menegaskan hak seluruh pengungsi Palestina untuk kembali ke kampung halaman mereka yang diduduki dan dirampas oleh kaum Zionis Israel.

Koran Jerussalem Post (JP) mengutip keterangan seorang pejabat Mesir dan Saudi bahwa keduanya telah menghubungi Hamas dan memintanya supaya menyudahi aksi demo yang berkelanjutan sejak  peringatan Hari Bumi Palestina pada 30 Maret tersebut.

Menurut JP, seorang pejabat Kemlu Mesir mengatakan bahwa atas gagasan Riyadh Kairo telah menawarkan pembukaan pintu perbatasan Rafah dengan catatan aksi itu dihentikan. Dalam rangka ini sebuah delegasi bahkan telah dikirim ke Gaza untuk menemui pemimpin Hamas, dan Ketua Badan Intelijen Umum Mesir Abbas Kamil telah “ditugaskan oleh Saudi supaya mengirim delegasi untuk mencegah ledakan situasi.”

Senada dengan ini, laman al-Khaleej Online mengutip pernyataan pejabat Mesir yang juga anonim bahwa Kairo kuatir kemarahan orang-orang Palestina akan merembet ke wilayah perbatasan Mesir lalu menimbulkan kesulitan pada sikap Mesir di tingkat regional Arab maupun global.

Pejabat itu menambahkan bahwa perkembangan situasi di Gaza sangat rawan dan berpotensi keluar dari kendali jika tidak segera ditangani.

Dia juga mengatakan bahwa Mesir dan Saudi adalah negara yang paling serius memikirkan upaya menghentikan Al-Awdah March sehingga Mesir bahkan bersedia membuka pintu perbatasan Rafah sepenuhnya demi meringankan beban blokade yang diterapkan terhadap Jalur Gaza.

Namun demikian, Quds al-Ikhbariyyah mengutip pernyataan sumber Hamas bahwa faksi pejuang Palestina yang paling berpengaruh di Jalur Gaza ini menolak tawaran Mesir tersebut.

Al-Awdah March telah direaksi oleh pasukan Zionis dengan serangan brutal yang sejauh ini telah menggugurkan 32 orang Palestina, termasuk wartawan bernama Yasser Mortaja, melukai lebih dari 2700 lainnya. Para wartawan Palestina meminta pembentukan tim pencari fakta internasional terkait kasus keganasan pasukan Zionis terhadap insan pers tersebut. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*