Israel-al-AqsaDoha, LiputanIslam.com – Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, Khaled Meshal, menganggap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang bermain api terkait Masjid al-Aqsa.

“Netanyahu sedang bermain api ketika dia membiarkan para anggota parlemennya, Knesset, dan para ekstrimis berulangkali melakukan penyerbuan terhadap Masjid al-Aqsa. Ini berbahaya,” katanya dalam wawancara dengan Sky News yang dipublikasikan Jumat kemarin (5/12).

Tokoh Hamas yang tinggal di Doha, ibu kota Qatar, sejak 2012 setelah sebelumnya tinggal di Damaskus, ibu kota Suriah, itu menambahkan bahwa aksi pendudukan kaum Zionis Israel dengan sasaran tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Baitul Maqdis (Jerussalem) dan Palestina, terutama Masjid al-Aqsa, telah membangkitkan reaksi kemarahan dari orang-orang Palestina.

Menurut Meshal, sikap Netanyahu sangat berbahaya karena dapat menjurus kepada konfrontasi bernuansa agama.

“Perjuangan kami adalah perjuangan kebangsaan, namun Netanyahu telah membuatnya berubah menjadi perjuangan keagamaan. Dia harus bertanggungjawab atas konsekuensi dari apa yang terjadi,” tuturnya.

Dia menjelaskan, “Masjid al-Aqsa adalah milik umat Islam, tapi umat Islam malah dicegah mendirikan shalat di sana, sementara tentara dan polisi serta para ekstrimis sayap kanan (Israel) malah dibiarkan menyerbu dan masuk ke dalam tempat suci masjid dengan mengenakan sepatu. Ini jelas bermain api.”

Di bagian lain wawancara Meshal dengan Sky News yang berbasis di Inggris dia menyambut gembira dukungan parlemen negara-negara Eropa belakangan ini untuk mengakui negara Palestina.

“Kami mengapresiasi adanya langkah-langkah baru, seperti voting di parlemen-parlemen Inggris, Perancis, Spanyol, dan juga pengakuan pemerintah Swedia kepada negara Palestina. Demikian pula pendirian yang sangat berani di Amerika Latin, Afrika Selatan, negara-negara di Asia dan seluruh dunia. Kami mencatat semua ini sebagai perkembangan yang sangat baik. Kami berharap lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Selama beberapa minggu terakhir ini komplek Masjid al-Aqsha menjadi ajang bentrokan antara jamaah Palestina di satu pihak dan tentara serta para ekstrimis Zionis di pihak lain.

Menurut Press TV, lembaga swadaya masyarakat Palestina al-Aqsa Foundation for Endowment and Heritage dalam laporannya belum lama ini menyatakan bahwa sebanyak hampir 14,000 orang Israel yang sebagian besar di antaranya adalah para ekstrimis Zionis telah memaksa masuk ke dalam komplek Masjid al-Aqsa di Baitul Maqdis Timur sejak awal tahun 2014.

Rezim Zionis Israel sendiri dalam beberapa dekade ini gencar berusaha melakukan pengubahan demografi Baitul Maqdis dengan membangun tempat-tempat permukiman Zionis secara ilegal, menghancurkan situs-situs sejarah dan mengusir penduduk pribumi Palestina. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL