saudi al-faisal dan kerryRiyadh, LiputanIslam.com – Arab Saudi yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara pendukung dan donatur para ekstrimis teroris untuk menggulingkan pemerintah Suriah dan mengacaukan keamanan di Irak belakangan terus meneriakkan perang melawan ISIS. Pada perkembangan terbaru, Saudi juga meminta Iran berhenti mencampuri internal negara-negara Arab, sementara Amerika Serikat (AS) menyatakan bisa jadi diperlukan “tekanan militer” terhadap pemerintah Suriah.

“DAISH (ISIS) harus dihadapi di muka bumi, dan kami berharap kepada Iran agar menghentikan campurtangannya terhadap urusan internal negara-negara Arab sebelum permusuhan meruncing,” ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Arab Saudi Saud al-Faisal dalam konferensi pers bersama sejawatnya dari AS, John Kerry, Kamis (5/3/2015), sebagaimana diberitakan Rai al-Youm.

Mengenai koalisi internasional pimpinan AS anti ISIS, al-Faisal mengatakan, “Kerajaan (Arab Saudi) menegaskan pentingnya koalisi ini untuk memerangi DAISH di Irak dan Suriah serta memandang penting pula ketersediaan jalan-jalan militer yang memadai untuk menghadapi tantangan ini di muka bumi.”

Pada kesempatan yang sama al-Faisal mengingatkan perkembangan peranan Iran di Irak. Dia menuduh Teheran berupaya menanamkan dominasinya terhadap Irak melalui bantuan-bantuannya dalam perang melawan organisasi ekstrimis.

“Kami berharap kepada Iran, sebelum permusuhannya dengan negara-negara jirannya meruncing, supaya mendengarkan perkataan orang-orang yang berakal sehat di antara mereka (Iran) sendiri, serta mengakhirnya campur tangannya dalam urusan negara-negara Arab,” ungkapnya.

Dia menambahkan, “Tikrit adalah satu contoh bukti jelas yang telah membuat kami prihatin. Iran sedang berjalan untuk meletakkan tangannya di Irak.”

Tentara, polisi, relawan dan pasukan adat Irak sejak Minggu lalu (1/3/2015) menggelar operasi besar-besaran untuk membebaskan Tikrit, ibu kota provinsi Salahuddin. Beredar kabar bahwa komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, Jenderal Qassem Soleimani, berada di sana untuk memantau dan mengarahkan operasi penumpasan ISIS. (Baca: Reuters: Operasi Tikrit Perlihatkan Keunggulan Iran Atas AS Dalam Perang Melawan ISIS  dan Martin Dempsey: Keterlibatan Iran Dalam Operasi Pembebasan Tikrit “Bisa Jadi Positif”)

Lebih lanjut Menlu Saudi mengatakan bahwa pihaknya sangat menekankan keharusan negara-negara kelompok 5+1 (AS, Rusia, Inggris, Perancis, Cina dan Jerman) menerapkan sistem pengawasanl ekstra ketat untuk memastikan bahwa Iran tidak dapat membuat atau memiliki senjata nuklir.

Merespon kekhawatiran Saudi, Menlu AS John Kerry menegaskan bahwa negaranya “akan melakukan tindakan-tindakan untuk menjamin bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir.” Dia tidak memberikan penjelasan tentang tindakan-tindakan itu.

Perundingan nuklir Iran dengan AS telah berlangsung tiga hari di Swiss dan berakhir Rabu (4/3/2015).

Dia mengatakan, “Ada kemajuan dalam perundingan itu, namun masih ada beberapa kesenjangan.”

Dia menambahkan bahwa perundingan itu akan dilanjutkan pada tanggal 15 Maret mendatang.

Mengenai Suriah, Kerry menyatakan tekanan militer bisa jadi diperlukan untuk mendepak Presiden Suriah Bashar al-Assad dari kekuasaan.
Dia menegaskan bahwa Assad sudah tidak memiliki legitimasi sama sekali, namun persoalan yang lebih penting dari itu adalah pembasmian ISIS.

Di pihak lain, Bashar al-Assad dalam wawancara dengan TV Portugis Rabu lalu (4/3/2015) mengaku didukung rakyat dengan alasan bahwa tidak mungkin dia dapat bertahan di depan revolusi yang didukung Barat dan para sekutu Arabnya di Timur Tengah seandainya dia tidak mendapat dukungan rakyat. Katanya, hanya Superman yang bisa bertahan menghadapi tekanan sedemikian rupa jika tak didukung rakyat. (Baca: Assad: Aku Bukan Superman)
(mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*