Doha, LiputanIslam.com –  Menlu Qatar Mohammad bin Abdulrahman al-Thani membuat pernyataan tegas terhadap kubu Arab Saudi dengan menyebut  desakan mereka terhadap Qatar “tidak realistis” sehingga “tidak dapat diterapkan.”

Dalam jumpa pers bersama sejawatnya dari Jerman, Sigmar Gabriel, di Doha, ibu kota Qatar, Selasa (4/7/2017), al-Thani mengatakan persyaratan yang diajukan Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir “tidak berkaitan dengan teroris, melainkan dengan penindasan terhadap kebebasan bereskspresi.”

“Tak ada penyelesaian bagi krisis apapun kecuali melalui meja perundingan dan dialog berdasarkan prinsip kesetaraan antarnegara, bukan intimidasi,” tegasnya.

Mengenai isi surat yang telah diserahkan Doha kepada Kuwait dalam menanggapi desakan empat negara Arab yang telah memutuskan hubungan dengan Qatar itu al-Thani menyatakan tanggapan Qatar dibuat  berdasarkan prinsip menghormati kedaulatan negara dan undang-undang internasional.

Dia menegaskan lagi bahwa permintaan kubu Saudi “tidak realistis dan tak dapat diimplementasikan” karena “menyalahi kedaulatan sebuah negara dan mencampuri urusan dalam negerinya”, dan Doha “menolak perwalian atas Qatar oleh negara manapun.”

Sebelumnya di hari yang sama Menlu UEA Abdullah bin Zayed bin Sultan al-Nahyan mengecam Qatar dengan mengatakan, “Cukuplah (Qatar) menyokong terorisme.” Menanggapi hal ini, Menlu Qatar balik mengatakan, “Cukuplah kedustaan terhadap Qatar dan pencemaran nama baiknya. Cukuplah perlindungan terhadap penjahat perang.” Dia tidak menyebutkan siapakah penjahat perang yang dimaksud.

Ditanya wartawan mengenai pertemuan segi empat mengenai langkah selanjutnya terhadap Qatar yang akan digelar oleh para menlu Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir di Kairo, Rabu (5/7/2017), Mohammad bin Abdulrahman al-Thani mengatakan, “Tak dapat ditebak sikap negara-negara pemblokade itu. Yang jelas mereka telah melanggar banyak prinsip undang-undang internasional melalui penerapan blokade secara ilegal terhadap negaraku, dan pada gilirannya kami tak dapat menebak hasil pertemuan ini.”

Di pihak lain, Menlu Jerman Sigmar Gabriel menyatakan pihaknya mendukung upaya Kuwait dan Amerika Serikat mengatasi krisis Teluk, sementara Jerman sendiri tidak menjadi penengah namun mendukung upaya penyelesaian. (mm/ aljazeera/ rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL