Javad-ZarifTeheran, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Mohammad Jawad Zarif menilai upaya mencapai kesepakatan final terkait program nuklir Iran sebagai urusan yang gampang-gampang susah. Alasannya, gampang karena Iran kooperatif dengan tujuan kasat mata yang dikehendaki Barat, sedangkan susah karena ada pihak-pihak tertentu yang memang tidak menghendaki tercapainya kesepakatan dan merasa kepentingannya terpenuhi apabila terjadi konflik dan Iran tetap dicurigai.

Hal itu dikemukakan Zarif dalam wawancara dengan mingguan The New Yorker yang berbasis di Amerika Serikat (AS) dan dimuat pada Kamis (22/5).

Zarif mengatakan, “Negara-negara Barat sebenarnya dapat mempengaruhi semua dimensi politik luar negeri Iran seandainya mereka sudi mengubah sikapnya terhadap Teheran.”

Dia menjelaskan, “Seandainya kami dapat membuktikan kepada rakyat kami bahwa Barat memiliki kesiapan untuk berurusan dengan Iran berdasar prinsip saling menghormati, menjaga kepentingan kolektif, dan bertolak dari prinsip kesetaraan maka ini akan dapat berperngaruh pada hampir setiap aspek perilaku kebijakan luar negeri Iran, demikian pula pada sebagian aspek kebijakan dalam negerinya.”

Terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan final antara Iran dan negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) plus Jerman atau yang lazim disebut “Kelompok 5+1”, Zarif yang disebut oleh The New Yorker sebagai sosok moderat dalam isu nuklir Iran itu mengatakan, “Masalah ini gampang-gampang susah. Gampang karena kami memiliki pandangan yang sama terkait tujuan yang terlihat secara kasat mata dalam negosiasi. Kami memang tidak menginginkan senjata nuklir, sedangkan mereka mengaku bertujuan memastikan bahwa Iran tidak memiliki senjata ini. Jadi, kalau tujuannya memang demikian maka menurut saya hal itu sekarang sudah terwujud, dan dalam proses ini kita tinggal mencari mekanisme yang memungkinkan tercapainya kesepakatan.”

“Namun,” lanjut Menlu Iran, “dalam rinciannya mungkin rumit, terutama karena ada pihak-pihak yang memang tidak ingin melihat adanya kesepakatan. Mereka memburu kepentingannya dari adanya kecurigaan yang lebih besar dan konflik. Mereka bekerja keras. Mereka melakukan apa yang dapat mereka lakukan untuk melakukan pencegahan.”

Zarif juga mengatakan,”Mereka (Barat) memiliki kesempatan untuk membenahi kondisi mereka, dan ada kemungkinan kali ini mereka akan bermain dengan taktik baru.” Dia menambahkan, “Saya masih yakin bahwa mereka sendirilah yang pada akhirnya akan merugi, namun mereka akan membuat keadaan menjadi sedikit lebih sulit bagi mereka yang ingin melakukan sesuatu yang positif.”

The New Yorker menyebutkan bahwa Zarif menegaskan keharusan penghormatan terhadap hak Iran memperkaya uraniuam. Menlu Iran menyebutkan bahwa negaranya memandang pengayaan uraniaum sebagai kebutuhan yang mendesak untuk mendapatkan sumber energi alternatif seiring dengan peningkatan komsumsi bahan bakar minyak dalam negeri, serta untuk mengubah pola ekspor minyak Iran di masa mendatang, yaitu ekspor yang menjadi sumber utama pendapatan negara ini. (mm/thenewyorker)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL